Search
Search

Saatnya Umat Islam Bangkit Sebagai Penentu, Bukan Ditentukan

Saatnya Umat Islam Bangkit Sebagai Penentu, Bukan Ditentukan

Di tengah kelesuan umat Islam yang kian tampak dari berbagai penjuru dunia dari Palestina hingga krisis Suriah muncul pertanyaan yang menggetarkan jiwa: mungkinkah era keemasan Islam akan kembali?  

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Wakil Ketua MUI Dr. H. Anwar Abbas, M.M., M.Ag., mengajak kita merenung lebih dalam. Bahwa kejayaan bukan milik abadi suatu bangsa atau kekuatan, melainkan dipergilirkan oleh Allah kepada siapa yang siap dan layak menerimanya. Maka pertanyaannya bukan lagi ‘akankah giliran itu datang?’, melainkan ‘sudahkah kita bersiap ketika giliran itu tiba?’ 

“Apakah era keemasan Islam akan kembali?” Pertanyaan ini mengemuka dari hati yang resah melihat kondisi umat Islam saat ini, baik di level nasional maupun global. Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Dr. H. Anwar Abbas, M.M., M.Ag., dalam refleksinya menyampaikan bahwa situasi umat hari ini memang mencemaskan. Perselisihan internal umat Islam, konflik berkepanjangan di Palestina dan Suriah, serta dominasi kekuatan asing membuat kita seolah kehilangan harapan. 

Namun, keputusasaan itu perlahan luruh saat beliau merenungi firman Allah dalam QS. Ali Imran: 140: “Watilkal ayyamu nudaawiluha bayna an-naas…” yang berarti bahwa hari-hari (kejayaan) itu akan dipergilirkan di antara manusia. Inilah janji Allah: kejayaan tidak akan menetap pada satu bangsa, satu kekuatan, atau satu kawasan semata. Sejarah pun menjadi saksi. 

Kerajaan Romawi dan Persia runtuh, digantikan Daulah Umayyah yang berjaya menguasai darat dan laut. Ketika Umayyah runtuh, tampil Daulah Abbasiyah, kemudian Daulah Turki Utsmani. Dan setelah Turki Utsmani tumbang, muncullah era dominasi Barat: Eropa, lalu Amerika. Tapi sebagaimana janji Allah, masa itu akan bergilir. 

Tanda-Tanda Pergantian Era 

Ketika berkunjung ke Amerika, Buya Anwar Abbas diajak seorang sahabat untuk merenungi gedung-gedung pencakar langit dan jembatan megah. Di balik semua itu, kata sahabatnya, terdapat usia. Gedung-gedung itu ada masanya untuk runtuh, dan jika tak ingin ada korban, mereka akan diruntuhkan lebih dahulu. Namun, setelah itu muncul masalah: membangunnya kembali membutuhkan biaya, sementara utang Amerika sudah mencapai 200% dari PDB. Ini bisa menjadi salah satu tanda era Amerika akan berakhir. Lalu siapa yang akan menggantikan? 

Ternyata pada tahun 1992, dalam pertemuan para pakar dunia di Rio de Janeiro, muncul prediksi mengejutkan: Indonesia akan menjadi salah satu negara adikuasa dalam 200 tahun ke depan. Prof. Dr. Emil Salim, yang hadir saat itu, menyampaikan hal ini kepada Presiden BJ Habibie, yang kemudian meminta agar target tersebut dipercepat menjadi 50 tahun dengan syarat: Indonesia harus memiliki minimal 1% penduduknya sebagai SDM unggul. Artinya, hari ini, dibutuhkan sekitar 2,8 juta manusia unggul untuk menjadi fondasi kebangkitan Indonesia. 

Prediksi ini juga sejalan dengan kajian PricewaterhouseCoopers (PwC), yang menyebut bahwa pada 2040-2050 Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi keempat dunia setelah China, India, dan Amerika. 

Siapa yang akan Menentukan Arah Indonesia? 

Pertanyaannya, jika Indonesia menjadi negara besar, siapa yang akan menjadi penentu arah bangsa ini? Menurut teori Prof. Jeffrey Winters dan Noam Chomsky, kekuatan penentu suatu negara terletak pada akses terhadap kekuasaan ekonomi, politik, dan sosial. Di Amerika, misalnya, para penentu adalah kalangan Yahudi yang menguasai ekonomi. Lalu bagaimana dengan Indonesia? 

Buya Anwar Abbas mengamati bahwa meski umat Islam adalah mayoritas, namun kekuasaan ini belum di tangan umat. Dari daftar 10, 20 hingga 50 orang terkaya Indonesia, hanya segelintir yang beragama Islam. Artinya, umat Islam belum menjadi penentu di negeri ini. 

Padahal menurut almarhum Prof. Dr. Dawam Rahardjo, seorang ekonom Indonesia, untuk bisa menjadi penentu, umat Islam harus menguasai elit strategis, yaitu: agamawan, politisi, cendekiawan, pengusaha, birokrat, jurnalis, pendidik, profesional, budayawan, tentara, dan penegak hukum. Dan di antara semua itu, titik lemahnya umat Islam ada pada elit pengusaha. 

Masalah Umat Islam: Lemah di Ekonomi dan Bisnis 

Jika umat Islam ingin bangkit dan menjadi penentu, maka kekuatan ekonomi adalah syarat mutlak. Uang memang bukan segala-galanya, namun segala-galanya butuh uang. Tanpa kekuatan bisnis dan ekonomi, umat akan terus berada di posisi “yang ditentukan”. 

Kondisi ini makin rumit ketika kekuatan politik berada di bawah kendali pemilik modal. Sejak era reformasi, biaya politik begitu tinggi. Akibatnya, calon pemimpin umat seringkali terpaksa meminta dana ke pemilik kapital. Ketika terpilih, mereka menjadi “tawanan” dari pemodal. Maka jangan heran jika kebijakan negara seringkali bias kepada kepentingan para pemilik modal, bukan kepada rakyat. 

Kondisi ini diperparah oleh lemahnya penegakan hukum. Para koruptor kelas teri ditangkap, sementara yang kelas kakap nyaris tak tersentuh. Inilah wujud ketidakadilan yang nyata. 

Harapan Itu Bernama Ulama dan Umat yang Sadar 

Dalam situasi seperti ini, Buya Anwar Abbas mengingatkan pentingnya peran ulama. Mengutip Imam Al-Ghazali, kerusakan umat bersumber dari rusaknya penguasa, dan rusaknya penguasa berasal dari ulama yang tidak berani menyampaikan kebenaran. 

Maka, umat Islam tidak cukup hanya puas dalam urusan spiritual dan ibadah. Umat harus bangkit menutupi kelemahan dalam ekonomi, bisnis, dan ilmu pengetahuan. Umat harus menjadi penguasa di negeri mayoritas Muslim ini, dengan cara yang adil dan membawa rahmat bagi semua. 

Giliran Itu akan Datang 

Sejarah telah membuktikan, tidak ada kejayaan yang abadi. Roma dan Persia runtuh, Umayyah digantikan Abbasiyah, lalu Turki Utsmani pun tumbang. Sekarang giliran Barat yang dominan, tapi waktunya pun akan usai. 

Firman Allah dalam QS. Ali Imran: 140 kembali menjadi pengingat: Watilkal ayyamu nudaawiluha bayna an-naas… Era kejayaan akan terus dipergilirkan. Maka saatnya umat Islam bersiap. Bukan hanya sebagai penonton sejarah, tetapi sebagai pelaku utama perubahan. 

Namun, kita hanya bisa menjadi penentu jika kita menguasai sumber daya strategis, khususnya ekonomi. Inilah tugas besar kita hari ini: mencetak jutaan pengusaha Muslim yang kuat secara spiritual, cerdas secara intelektual, dan tangguh secara ekonomi. Agar kelak, saat giliran kejayaan itu tiba, umat Islam tak lagi hanya menjadi korban, tapi pemimpin peradaban. (YN) 

Sumber : https://halalmui.org/jurnal-halal/174/