Menjadi seorang ayah dalam Islam bukan hanya sekadar memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga bertanggung jawab dalam mendidik anak-anak dengan nilai-nilai keislaman. Bagaimana bentuk konkretnya?
Seorang ayah harus menjadi teladan dalam ibadah, akhlak, dan kecintaan terhadap Al-Qur’an, karena anak-anak akan meniru kebiasaan yang mereka lihat. Dengan menjalankan peran ini dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab, seorang ayah tidak hanya membangun keluarga yang harmonis tetapi juga berkontribusi dalam mencetak generasi muslim yang saleh dan berakhlak mulia. Dr. Syamsul Bahri, M.A, penceramah sekaligus Dosen Pengajar di Universitas Ibn Khaldun Bogor, menekankan pentingnya kesiapan ilmu dan mental sebelum mengemban amanah ini.
Dalam kehidupan keluarga, seorang ayah memiliki peran yang sangat besar sebagai pemimpin, pelindung, dan pendidik bagi anak-anaknya. Namun, tidak semua pria yang telah menikah siap mengemban amanah ini dengan baik. Dalam tausiyah parenting Islami, Ust. Dr. Samsul Basri mengingatkan bahwa tanggung jawab seorang ayah haruslah didasari oleh kewajiban dan panggilan hati, mencerminkan kepedulian serta kejujuran dalam menjalankan perannya.
Allah SWT telah menegaskan dalam firman-Nya, QS Al-Ahzab ayat 72: “Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya. Lalu, dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya ia (manusia) sangat zalim lagi sangat bodoh.”
Dalam ayat ini, Allah SWT menjelaskan bahwa amanah besar telah ditawarkan kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, namun mereka menolak karena khawatir tidak mampu menjalankannya. Akan tetapi, manusia menerima amanah tersebut meski sering kali lalai dan lengah dalam menjalankannya. Amanah ini tidak hanya dalam bentuk kewajiban agama, tetapi juga mencakup segala tanggung jawab yang diberikan kepada seseorang, termasuk amanah sebagai seorang ayah.
Menjadi seorang ayah bukan hanya sekadar memberikan nafkah, tetapi juga mendidik dan membimbing anak-anaknya agar tumbuh menjadi individu yang saleh dan bertakwa. Hal ini tidak bisa dilakukan tanpa kesiapan ilmu dan mental.
Saat ini, banyak orang ingin segera menikah tanpa menyadari bahwa menjadi suami dan ayah membutuhkan kesiapan yang matang. Ust. Dr. Samsul Basri menegaskan bahwa mereka yang terburu-buru menikah tanpa kesiapan dapat jatuh dalam kedzaliman terhadap diri sendiri dan keluarganya.
Sebagaimana disebutkan dalam Islam, “Al ‘Ilmu Qoblal Qouli Wal ‘Amali” yang berarti ilmu harus mendahului perkataan dan perbuatan. Seorang ayah harus memahami terlebih dahulu perannya sebelum benar-benar menjalankannya. Dengan memahami peran dan tanggung jawabnya, ia akan lebih siap menghadapi tantangan dalam mendidik anak-anaknya sesuai dengan ajaran Islam.
Imam Al-Ghazali pernah berkata, “Didiklah anakmu 25 tahun sebelum ia dilahirkan.” Maksud dari nasihat ini adalah bahwa seorang calon ayah harus mendidik dirinya terlebih dahulu sebelum mendidik anak-anaknya. Jika seorang ayah menginginkan anak yang saleh dan salehah, maka ia sendiri harus berusaha menjadi pribadi yang dekat dengan Allah dan menjalankan ajaran Islam dengan baik.
Pendidikan bukan hanya sekadar mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga pembiasaan nilai-nilai yang akan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Anak-anak belajar dari kebiasaan dan teladan yang mereka lihat dalam kehidupan sehari-hari.
Ust. Dr. Samsul Basri menekankan bahwa jika seorang ayah ingin memiliki keturunan yang dekat dengan Al-Qur’an, maka ia sendiri harus membiasakan diri membaca dan mengamalkan Al-Qur’an. Jika seorang ayah ingin anak-anaknya mencintai masjid, maka ia sendiri harus memberikan contoh dengan sering ke masjid. Anak-anak yang melihat ayahnya rajin shalat, membaca Al-Qur’an, dan berakhlak baik akan meniru kebiasaan tersebut secara alami.
Pendidikan Islam dalam keluarga adalah proses yang berlangsung sepanjang hayat. Oleh karena itu, mendidik anak agar tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak mulia harus dimulai dari diri sendiri. Ayah yang bertanggung jawab adalah mereka yang memahami bahwa tanggung jawab mendidik anak bukan hanya tugas ibu semata, tetapi juga bagian dari amanah yang harus ia emban.
Menjadi ayah bukanlah sekadar peran sosial, tetapi sebuah amanah besar yang harus dipertanggungjawabkan di dunia dan akhirat. Ust. Dr. Samsul Basri menegaskan bahwa setiap ayah harus memahami peran dan tanggung jawabnya sesuai dengan ajaran Islam. Pendidikan anak yang terbaik dimulai dari teladan yang diberikan oleh orang tua, terutama ayah sebagai pemimpin keluarga.
Oleh karena itu, tidak ada kata terlambat untuk mulai memperbaiki diri dan belajar menjadi ayah yang lebih baik. Setiap langkah kecil dalam mendidik diri sendiri akan berdampak besar pada masa depan keluarga dan generasi berikutnya. Sebagaimana pepatah mengatakan, “Lebih cepat lebih baik, tak ada kata terlambat.” (ZUL)