Artikel & Berita Halal

Hadapi WHO 2026, Industri Suplemen Perlu Waspadai Titik Kritis Ini

Muhamad Zulkifly
Muhamad Zulkifly

Gelatin bukan satu-satunya titik kritis halal dalam suplemen kesehatan. Bahan tambahan hingga material produksi juga perlu ditelusuri. Menjelang WHO 2026, industri suplemen perlu memastikan kehalalan produk dari hulu hingga siap dikonsumsi.

Menjelang implementasi Wajib Halal Oktober (WHO) 2026, industri suplemen kesehatan perlu semakin cermat memastikan kehalalan produknya. Sebab, titik kritis halal suplemen tidak hanya terdapat pada bahan baku utama seperti gelatin, tetapi dapat muncul dari berbagai material yang digunakan sepanjang proses produksi.

Hal tersebut disampaikan oleh LPPOM MUI Laboratory Expert, Priyo Wahyudi dalam webinar “Halal Ready 2026: Traditional Medicine & Health Supplements” yang diselenggarakan oleh LPPOM pada 31 Agustus 2026. Pihaknya menjelaskan bahwa penelusuran kehalalan perlu dilakukan secara menyeluruh. Selain bahan utama, perusahaan perlu memperhatikan bahan tambahan, bahan penolong, bahan kemas primer, sanitizer, hingga pelumas yang berpotensi bersentuhan langsung dengan bahan atau produk.

Material yang digunakan dalam proses validasi pencucian juga perlu diperhatikan. Artinya, memastikan suplemen halal tidak cukup hanya dengan memeriksa komposisi produk akhir, tetapi perlu melihat keseluruhan proses produksi dan material yang terlibat di dalamnya.

“Titik kritisnya bukan hanya pada bahan utama. Semua bahan yang digunakan dalam proses produksi perlu ditelusuri sumber dan prosesnya, termasuk bahan tambahan, bahan penolong, sampai material yang berpotensi bersentuhan dengan produk,” jelas Priyo.

Gelatin pada Soft Capsule Jadi Salah Satu Titik Kritis

Salah satu bahan yang memiliki titik kritis tinggi dalam industri suplemen adalah gelatin. Bahan ini banyak digunakan sebagai material pembentuk kapsul, khususnya pada produk soft capsule.

Sumber gelatin dan proses pembuatannya perlu dipastikan karena bahan tersebut dapat berasal dari sumber hewani yang memiliki risiko kehalalan. Karena itu, penelusuran tidak cukup dilakukan hanya dengan melihat produk akhirnya.

“Kalau menggunakan bahan gelatin, contohnya suplemen kesehatan soft capsule, maka kita harus menguji bahan baku gelatinnya dan juga produk akhirnya,” jelas Priyo.

Dalam kondisi tertentu, pengujian halal dapat digunakan untuk memberikan kepastian lebih lanjut terhadap bahan maupun produk. Pada gelatin yang digunakan untuk suplemen berbentuk soft capsule, misalnya, pengujian dapat dilakukan terhadap bahan baku sekaligus produk akhir untuk mendeteksi kemungkinan keberadaan DNA babi. Pendekatan tersebut menunjukkan pentingnya pengendalian halal sejak bahan diterima hingga produk siap diedarkan.

Titik Kritis Halal Tidak Berhenti pada Gelatin

Meski gelatin menjadi salah satu bahan yang paling sering mendapat perhatian, titik kritis halal pada suplemen jauh lebih luas. Sejumlah bahan lain seperti gliserin, enzim, asam amino, kolagen, monogliserida, digliserida, trigliserida, glukosamin, kondroitin, hingga kolesterol juga perlu ditelusuri.

Setiap bahan memiliki karakteristik dan sumber yang berbeda. Oleh karena itu, industri perlu mengetahui asal bahan, proses pembuatannya, serta material yang digunakan selama proses tersebut.

Hal yang sama berlaku pada bahan pembentuk kapsul. Perusahaan perlu memastikan sumber material yang digunakan serta ketersediaan dokumen pendukung dari pemasok. Informasi tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan ketertelusuran bahan dan mendukung proses sertifikasi halal.

Tantangan lainnya adalah anggapan bahwa bahan yang berasal dari tumbuhan otomatis aman dari persoalan kehalalan. Padahal, bahan nabati tetap perlu ditelusuri karena proses pengolahannya dapat melibatkan bahan tambahan maupun bahan penolong yang memiliki titik kritis halal.

Prinsip serupa berlaku terhadap bahan yang diperoleh melalui sintesis kimia maupun fermentasi mikroba. Sumber bahan menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan, tetapi proses pembuatan dan material yang terlibat di dalamnya juga perlu ditelusuri. Dengan demikian, penentuan status halal sebuah bahan tidak hanya melihat asal bahan, tetapi juga proses pengolahan dan material yang digunakan selama produksinya.

Pemetaan Titik Kritis Jadi Langkah Penting Hadapi WHO

Menghadapi Wajib Halal 2026, industri suplemen kesehatan perlu mulai melakukan pemetaan titik kritis secara sistematis. Langkah tersebut dapat dimulai dengan menginventarisasi seluruh bahan yang digunakan, mengidentifikasi pemasok, memeriksa dokumen kehalalan, serta menentukan bahan dan proses yang memiliki potensi titik kritis.

“Jika diperlukan, pengujian laboratorium dapat menjadi bagian dari proses verifikasi untuk memberikan kepastian lebih lanjut terhadap bahan maupun produk,” jelas Priyo.

Pendekatan ini membuat pengendalian halal tidak hanya dilakukan ketika perusahaan akan mengajukan sertifikasi halal suplemen, tetapi menjadi bagian dari proses produksi yang dijalankan secara konsisten.

Hal tersebut juga berkaitan dengan penerapan Sistem Jaminan Produk Halal (SJPH). Setiap perubahan bahan, pemasok, maupun proses produksi perlu dikendalikan agar kondisi yang telah memenuhi kriteria halal dapat terus dipertahankan.

Menjelang 18 Oktober 2026, tantangan industri suplemen kesehatan bukan sekadar memperoleh sertifikat halal. Yang tidak kalah penting adalah memastikan seluruh bahan dan proses di balik produk dapat ditelusuri, diverifikasi, dan dikendalikan.

Dengan pemetaan titik kritis yang tepat, pemeriksaan dokumen pemasok, penerapan SJPH secara konsisten, serta dukungan pengujian laboratorium apabila diperlukan, industri dapat mempersiapkan pemenuhan Wajib Halal 2026 secara lebih sistematis sekaligus memberikan kepastian kepada konsumen. (Syahdan/Ed.YN)

Tags:

Food
Info
LPPOM MUI
Update