Search
Search

Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) LPPOM Sertifikasi Halal

Arah Baru Industri Halal Global: Lebih Etis, Lebih Berkelanjutan

Tahun 2026 merupakan fase penting di mana halal bergerak melampaui konsep kepatuhan (compliance) menuju kesadaran (conscience). Halal tidak lagi dimaknai sebatas pemenuhan standar atau checklist, tetapi menjadi refleksi dari nilai yang diyakini konsumen tentang bagaimana sebuah produk dibuat, apa dampaknya, dan tanggung jawab apa yang dijalankan oleh brand di baliknya.

Di tingkat global, irisan antara halal, ethical beauty, serta praktik produksi dan konsumsi berkelanjutan semakin menguat. Halal tidak lagi dipahami semata sebagai konsep religius, melainkan sebagai kerangka etis yang relevan dengan tuntutan zaman. Di dalamnya melekat prinsip kehati-hatian, keterlacakan, dan akuntabilitas proses nilai-nilai yang kini menjadi standar baru dalam industri modern.

Bagi konsumen, khususnya generasi muda, halal telah menjadi bagian dari kesadaran hidup. Ia bukan sekadar label, tetapi representasi dari pilihan terhadap produk yang aman, bertanggung jawab, dan selaras dengan nilai yang mereka yakini. Perubahan cara pandang ini perlahan membentuk arah industri ke depan, di mana halal berperan sebagai fondasi nilai dan kesadaran, bukan sekadar alat diferensiasi pasar.

Sejalan dengan itu, industri kosmetika global diproyeksikan pada 2026 akan bergerak menuju produk dan brand yang lebih bertanggung jawab secara sosial, etis, dan lingkungan. Konsumen semakin kritis terhadap kejelasan sumber bahan, praktik cruelty free dan vegan, serta bagaimana sebuah produk diproduksi, digunakan, dan dikonsumsi secara berkelanjutan.

Dalam konteks ini, halal memiliki potensi besar untuk menjadi bagian dari standar global tersebut. Namun tantangannya terletak pada bagaimana halal dijalankan dan dikomunikasikan oleh ekosistemnya. Jika halal hanya dipahami sebagai label atau checklist kepatuhan administratif, maka nilainya akan berhenti pada simbol semata.

Sebaliknya, ketika halal diposisikan sebagai bagian dari standar kebaikan yang lebih luas yang mencakup tanggung jawab, etika, dan keberlanjutan—halal justru menjadi semakin relevan bagi konsumen yang lebih luas, baik di Indonesia maupun di tingkat global.

Halal Bukan Hambatan Inovasi

Penyelarasan antara halal, ethical beauty, dan keberlanjutan menjadi kunci penting. Halal bukanlah hambatan inovasi, melainkan kerangka yang memastikan bahwa kebaikan produk dan kebaikan proses berjalan beriringan. Inilah arah yang dinilai krusial untuk memperluas sekaligus menjaga relevansi standar halal ke depan.

Dari sisi bahan dan teknologi, kesadaran konsumen mendorong industri untuk semakin selektif dan bertanggung jawab. Penggunaan bahan berbasis plant-based, biotech derived, hingga precision engineered ingredients terus berkembang karena dinilai lebih konsisten, aman, dan transparan. Teknologi seperti enzymatic processing, precision fermentation, hingga AI-based traceability juga berperan penting dalam menjaga keterlacakan dan integritas proses di sepanjang rantai pasok.

Halal dan teknologi tidak berjalan paralel, melainkan saling menguatkan. Teknologi membantu menjaga integritas halal, sementara prinsip halal memberikan arah etik dalam pemanfaatan teknologi itu sendiri. Dengan pendekatan ini, halal dapat tumbuh sebagai bagian dari budaya industri—bukan sekadar kepatuhan—serta berkontribusi membangun ekosistem beauty yang lebih bertanggung jawab dan bermakna.

Perubahan ini juga tercermin dari perilaku konsumen. Konsumen muslim kini semakin matang dalam mengambil keputusan. Mereka semakin bersedia berinvestasi pada produk yang berkualitas, relevan dengan kebutuhan, dan selaras dengan nilai yang mereka yakini. Hal ini mencerminkan meningkatnya ekspektasi terhadap peran brand, khususnya di industri kecantikan.

Pentingnya Menghadirkan Nilai Tambah

Di sisi lain, konsumen juga semakin teredukasi, digital savvy, dan mengharapkan pendekatan yang lebih personal. Mereka tidak hanya mencari produk, tetapi juga pengalaman dan solusi yang membantu memahami kebutuhannya secara lebih utuh. Berbagi pengalaman dan rekomendasi pun menjadi faktor penting dalam membentuk preferensi dan keputusan konsumen.

Merespons hal tersebut, Sari Chairunnisa, Deputy CEO Paragon Technology and Innovation, kepada Jurnal Halal menegaskan pentingnya menghadirkan nilai tambah di luar produk melalui pendekatan yang lebih menyeluruh dan berbasis pemahaman konsumen. Dengan memanfaatkan sains dan teknologi, Paragon berupaya memberikan solusi yang lebih personal dan bermakna, sehingga hubungan dengan konsumen tidak berhenti pada transaksi, tetapi berkembang menjadi kepercayaan jangka panjang.

“Kami melihat tren bergerak ke arah produk yang purpose-driven, science-based, dan relevant to real needs. Produk multifungsi yang menggabungkan perawatan, proteksi, dan kenyamanan akan semakin diminati, seiring gaya hidup yang semakin dinamis,” terang Sari.

Di kategori skincare dan bodycare, fokus pada penguatan skin barrier, penggunaan gentle yet effective actives, serta microbiome-friendly formulation diprediksi akan terus menguat. Konsumen juga mencari pengalaman yang lebih holistik produk yang tidak hanya bekerja secara klinis, tetapi juga memberikan kenyamanan sensorik dan rasa aman untuk penggunaan jangka panjang.

Keberlanjutan pun kini bukan lagi sekadar nilai tambah, melainkan ekspektasi dasar. Kemasan rendah emisi, sistem refill, dan transparansi proses produksi semakin memengaruhi keputusan pembelian.

“Kami merespons perkembangan ini dengan memperkuat posisi Paragon sebagai perusahaan kecantikan berbasis sains, teknologi, dan nilai kebermanfaatan. Dengan portofolio 14 brand, kami melayani kebutuhan konsumen yang sangat beragam, dari remaja hingga keluarga, tanpa kehilangan konsistensi pada prinsip halal dan kualitas,” papar Sari.

Inovasi tersebut, lanjutnya, lahir dari pemahaman mendalam terhadap konsumen dan dinamika global, lalu diterjemahkan ke dalam solusi yang relevan di setiap segmen—mulai dari pengembangan teknologi seperti microbiome-based skincare hingga adopsi global micro trends yang disesuaikan dengan konteks lokal.

“Di saat yang sama, kami menjalankan roadmap keberlanjutan jangka panjang dengan mengoptimalkan bahan, proses produksi, dan kemasan. Kami percaya bahwa pertumbuhan yang sehat hanya mungkin terjadi jika selaras dengan kebermanfaatan,” tambahnya.

Tantangan dan Komitmen

Ke depan, tantangan terbesar terletak pada kompleksitas dan konsistensi. Rantai pasok global melibatkan banyak pemasok dengan tingkat kesiapan sistem yang berbeda, sementara tuntutan transparansi dan akuntabilitas terus meningkat. Menjaga kepatuhan halal, efektivitas produk, dan efisiensi biaya secara bersamaan membutuhkan investasi teknologi, penguatan tata kelola, serta kolaborasi lintas fungsi yang solid.

“Namun bagi kami, kompleksitas ini adalah bagian dari komitmen jangka panjang untuk menghadirkan produk yang tidak hanya efektif, tetapi juga terpercaya. Kebutuhan utama industri ke depan adalah keselarasan ekosistem. Standardisasi internasional sertifikasi halal akan sangat membantu mempercepat inovasi lintas negara tanpa mengorbankan kepatuhan,” tegas Sari.

Digitalisasi proses sertifikasi serta akses terhadap global halal ingredient database juga menjadi krusial agar kepatuhan dapat dipastikan sejak tahap riset dan formulasi. Ruang kolaborasi antara industri, regulator, dan lembaga halal pun semakin terbuka, khususnya dalam pengembangan bahan berbasis bioteknologi yang aman, halal, dan berkelanjutan.

Dengan pendekatan kolaboratif, inovasi dapat bergerak lebih cepat sekaligus menjaga kepercayaan publik menjadikan halal bukan sekadar standar kepatuhan, tetapi fondasi nilai dalam membangun industri kecantikan yang bertanggung jawab di masa depan. (***)

Sumber:

Jurnal Halal 177 https://halalmui.org/jurnal-halal/177/

//
Assalamu'alaikum, Selamat datang di pelayanan Customer Care LPPOM
👋 Apa ada yang bisa kami bantu?