Search
Search

Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) LPPOM Sertifikasi Halal

Peta Jalan Kehidupan: Target Yang Ditulis, Takdir yang Dimudahkan

Banyak di antara kita melewati bulan, pekan, bahkan tahun tanpa arah yang jelas. Bekerja sekadarnya, menjalani hidup apa adanya, lalu heran mengapa tak ada yang berubah. Padahal, seperti kata Ust Suhendi Alkhathab, hidup ini butuh peta jalan atau roadmap. Target yang ditulis bukan sekadar daftar harapan, tetapi ikhtiar yang membuka pintu takdir.

Pergantian tahun selalu datang dengan ritme yang sama: kalender berganti, resolusi baru mulai dibisikkan, tap jujur saja berapa banyak di antara kita yang benar-benar menyiapkan peta jalan hidup? Atau jangan-jangan tahun-tahun sebelumnya berlalu begitu saja, tanpa capaian berarti, tanpa evaluasi, tanpa jejak yang layak disebut progres?

Inilah yang dikhawatirkan Ustaz Suhendi Alkhathab, seorang pendakwah yang juga menjabat sebagai Sekretaris Pusat Asosiasi Dai-Daiyah Indonesia (ADDAI). “Kita menjalani hidup dengan ‘semu’, bergerak tapi tidak ke mana-mana, sibuk tapi tidak menghasilkan apa-apa baik dalam urusan dunia maupun akhirat,” ungkapnya.

Beliau membuka dengan pertanyaan telak, “Kira-kira dalam hidup ini, apkaah kita sudah punya roadmap?” Karena jika tidak, maka pergantian tahun hanya menjadi upacara rutin yang tidak punya makna. Padahal Allah sudah mengingatkan dalam Al-Qur’an untuk melihat apa yang telah kita persiapkan untuk hari esok. Muhasabah itu bukan ritual formal, tapi kebutuhan agar hidup tidak berjalan otomatis tanpa arah.

Roadmap hidup bukan sekadar catatan “ingin ini, ingin itu”. Ia adalah pengingat bahwa hidup butuh arah, butuh target, butuh kesadaran akan peran kita di dunia. Sebagai hamba (‘abd), kita bekerja, menikah, membesarkan anak, merawat orang tua semua itu ibadah. Dan sebagai khalifah fil-ardh, kita dituntut memberi manfaat. Maka meningkatkan kompetensi, belajar lagi, mengambil sertifikasi, bahkan kembali kuliah, semuanya menjadi bagian dari menjalankan amanah khalifah.

“Nabi Adam dimuliakan karena apa? Karena ilmu. Maka siapa pun yang merasa cukup dengan kondisi sekarang, yang merasa hidupnya sudah ‘begini saja’, perlu bertanya: apakah kita sudah benar-benar menjalani peran itu?” tegas Ustaz Suhendi mengingatkan.

Di sinilah pentingnya roadmap: ditulis, bukan hanya dipikirkan. Ustaz bercerita bahwa dulu beliau punya buku khusus untuk mencatat target-target hidupnya. Semuanya ditulis: rencana dakwah ke luar negeri, peningkatan kompetensi, dan hal-hal besar lainnya. Dan yang menarik, beliau menegaskan, “Tidaklah semua yang saya tulis kecuali Allah mudahkan itu.”

Ada pola yang jelas: target yang ditulis, diikhtiarkan, dan didoakan, biasanya akan lebih mudah dijalankan. Karena ada energi fokus, ada kejelasan tujuan. Dan Allah pun memudahkan langkah-langkahnya.

Dalam konteks keluarga pun, roadmap hidup itu penting. Ustaz mengingatkan doa Surah Al-Furqan ayat 74 sebagai blueprint keluarga sakinah: “Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyatina qurrata a’yun…” Keluarga adalah alasan banyak dari kita bekerja. Ustaz bertanya jenaka namun jujur, “Bapak Ibu bekerja untuk siapa?” Jawabannya tentu: keluarga. “Maka roadmap kita pun harus menyentuh aspek itu perbaikan relasi, pendidikan anak, kesiapan finansial, bahkan kesehatan mental,” terangnya.

Menariknya, Ustaz Suhendi mengaitkan roadmap dengan kesehatan mental. Menurut World Health Organization (WHO), mental yang sehat itu punya lima indikator: sejahtera, produktif, mampu mengelola stres, terhubung sosial, dan mampu mengambil keputusan. Banyak orang stres bukan karena masalahnya besar, tetapi karena dia tidak punya roadmap, sehingga keputusan-keputusan penting menggantung dan membuat hidup terasa penuh beban. Ketidakmampuan mengambil keputusan membuat hidup mandek.

Karena itu, roadmap menjadi cara merapikan hidup. Ia memberi kita pegangan sehingga kita tidak mudah panik, tidak mudah hilang arah. Ia membuat kita mampu memilih, menimbang, dan akhirnya bertindak. Hidup yang terencana bukan berarti kaku, tapi sadar ke mana kaki ingin melangkah.

Ustaz juga mengingatkan tentang menjaga ucapan. Kadang hidup terasa berat bukan karena takdirnya memang rumit, tapi karena keluhan yang kita lepaskan terlalu banyak. Padahal Allah sudah menegaskan “Aku sebagaimana prasangka hamba-Ku.” Maka jawaban sederhana ketika ditanya “Bagaimana kabarnya?” seharusnya mulai dilatih: “Alhamdulillah, baik, sehat, bahagia.” Ini untuk mengondisikan jiwa terus positif, optimis, dan tenang. Karena ucapan adalah doa, dan doa memengaruhi arah hidup.

Pada akhirnya, roadmap hidup bukan hanya daftar target. Ia adalah muhasabah, niat, dan komitmen untuk berubah. Ia menuntun kita menjadi hamba yang lebih taat dan khalifah yang lebih bermanfaat. Ia membuat hari-hari yang kita jalani tidak lagi sia-sia, tapi terarah, bernilai, dan berdampak.

Hari baru selalu memberi kesempatan yang sama pada semua orang. Perbedaannya ada pada siapa yang menyusun peta jalan dan siapa yang membiarkan hidupnya berjalan tanpa arah.

Maka, seperti pesan Ustaz Suhendi, mari tulis target kita. Apa yang belum tercapai, apa yang ingin diraih, apa yang harus diperbaiki. Buat roadmap hidup. Karena target yang ditulis akan diikhtiarkan, dan takdir yang diikhtiarkan InsyaAllah akan dimudahkan. (YN)

Sumber:

Jurnal Halal 177 https://halalmui.org/jurnal-halal/177/

//
Assalamu'alaikum, Selamat datang di pelayanan Customer Care LPPOM
👋 Apa ada yang bisa kami bantu?