Berita

LPPOM Hadir di Vietnam, Bahas Peluang Besar Produk Vietnam di Pasar Halal Global

Yana
Yana

Industri halal global membuka peluang besar bagi Vietnam sebagai salah satu pusat manufaktur halal di ASEAN. Melalui partisipasinya di Fi Vietnam 2026, LPPOM hadir memberikan edukasi terkait sertifikasi halal, peluang ekspor, dan strategi menembus pasar halal internasional bagi pelaku usaha Vietnam.

Industri halal global terus menunjukkan pertumbuhan signifikan dan menjadi salah satu sektor yang paling menjanjikan di dunia. Tidak hanya bagi negara dengan mayoritas penduduk Muslim, peluang industri halal kini juga terbuka lebar bagi negara-negara dengan kekuatan manufaktur dan ekspor yang kuat, termasuk Vietnam. Melihat potensi tersebut, LPPOM turut hadir dalam ajang Food Ingredients Vietnam (Fi Vietnam) pada 13–15 Mei 2026 untuk memperkuat edukasi dan kolaborasi halal di kawasan ASEAN.

Dalam ajang internasional tersebut, LPPOM berpartisipasi sebagai pembicara dalam talkshow bertajuk “Halal Made Easy: How Vietnamese Entrepreneurs Can Tap Into Global Markets Without the Hassle” yang berlangsung pada 14 Mei 2026. Dalam kesempatan tersebut, Rohil menjelaskan bahwa Vietnam memiliki peluang besar untuk menjadi pemain penting dalam rantai pasok halal global.

“Kekuatan sektor manufaktur dan kemampuan ekspor Vietnam menjadi modal utama untuk memasuki pasar halal internasional yang terus berkembang. Dari perspektif LPPOM sebagai Lembaga Pemeriksa Halal (LPH), Vietnam memiliki potensi yang sangat kuat di pasar halal global karena didukung sektor manufaktur dan kemampuan ekspor yang kompetitif,” ujar Rohil Salsabila.

Ia menambahkan bahwa pasar halal saat ini tidak lagi hanya berbicara mengenai kepatuhan terhadap syariat agama. Lebih dari itu, halal telah berkembang menjadi simbol kualitas, keamanan, higienitas, dan transparansi produk yang semakin diminati konsumen global.

Rohil memaparkan sejumlah sektor yang dinilai paling potensial untuk dikembangkan Vietnam dalam industri halal global. Beberapa di antaranya meliputi produk makanan dan minuman olahan, hasil laut, kopi dan produk pertanian, kosmetik dan perawatan pribadi, hingga produk pangan fungsional dan suplemen kesehatan. Dengan kekuatan tersebut, Vietnam dinilai berpotensi menjadi salah satu pusat manufaktur halal penting di kawasan ASEAN.

Tidak hanya membahas peluang pasar, Rohil juga menjelaskan peran strategis LPPOM dalam mendukung perusahaan Vietnam yang ingin menembus pasar halal internasional, khususnya Indonesia dan negara-negara mayoritas Muslim lainnya. Sebagai LPH, LPPOM memberikan dukungan melalui pemeriksaan halal, pendampingan teknis, implementasi sistem jaminan halal, serta pemahaman terhadap regulasi halal lintas negara.

Menurut Rohil, sertifikasi halal kini telah berkembang menjadi kebutuhan strategis dalam perdagangan internasional. Tidak sedikit perusahaan global yang menjadikan sertifikasi halal sebagai syarat penting dalam kerja sama bisnis maupun ekspor produk.

Ia juga menekankan bahwa perusahaan perlu mulai memandang halal sebagai bagian dari strategi bisnis jangka panjang, bukan sekadar proses administratif sertifikasi semata. Persiapan menghadapi masa depan industri halal, lanjut Rohil, perlu dilakukan melalui penguatan sistem jaminan halal, peningkatan transparansi rantai pasok, pemahaman regulasi halal internasional, serta pembangunan kepercayaan konsumen melalui kualitas dan keberlanjutan produk.

“Ke depan, konsumen tidak hanya mengharapkan produk halal, tetapi juga produk yang aman, etis, berkualitas, dan transparan,” tambahnya.

Dalam diskusi tersebut, Rohil menyoroti pentingnya sinergi antara regulator, lembaga pemeriksa halal, dan pelaku industri untuk menciptakan ekosistem sertifikasi halal yang lebih efisien dan ramah bisnis. Menurutnya, pemerintah dapat mendukung pertumbuhan industri halal melalui regulasi yang jelas, digitalisasi sistem sertifikasi, percepatan koordinasi administrasi, serta pendampingan bagi pelaku usaha, khususnya UMKM.

Rohil juga menjelaskan bahwa perdagangan halal global masih menghadapi tantangan akibat perbedaan standar dan implementasi sertifikasi halal antarnegara. Perbedaan persyaratan dokumen, kebijakan bahan baku, prosedur sertifikasi, hingga sistem pengakuan lembaga halal dinilai masih menjadi hambatan dalam proses ekspor dan akses pasar.

Karena itu, Rohil menilai kolaborasi internasional dan penguatan sistem saling pengakuan antar lembaga halal menjadi langkah penting untuk mendukung perdagangan halal global yang lebih lancar sekaligus menjaga kepercayaan konsumen terhadap produk halal.

Selain LPPOM, talkshow ini turut menghadirkan sejumlah tokoh penting di industri halal regional, di antaranya Rose Chitanuwat selaku Regional Portfolio Director – ASEAN Informa Markets, Ramlan Osman selaku Director of Vietnam Halal Certification Authority (Halalcert), serta Hanisofian sebagai Alias Interim Chief Executive Officer Halal Development Corporation Berhad.

Selain mengisi talkshow, LPPOM juga berpartisipasi dalam seminar bertajuk “Halal in Indonesia, Mandatory Certification for F&B Products – What Businesses Need to Know”. Seminar tersebut membahas kebijakan wajib sertifikasi halal di Indonesia khususnya untuk produk makanan dan minuman, serta berbagai hal penting yang perlu dipahami pelaku usaha internasional sebelum memasuki pasar Indonesia.

Selama penyelenggaraan Fi Vietnam pada 13–15 Mei 2026, LPPOM juga membuka booth konsultasi halal untuk memberikan edukasi dan pendampingan langsung kepada para pelaku industri yang ingin memahami proses sertifikasi halal dan peluang pasar halal global.

Keikutsertaan LPPOM dalam Fi Vietnam menjadi bagian dari komitmen untuk memperluas edukasi halal di tingkat internasional sekaligus memperkuat kolaborasi industri halal antarnegara di kawasan ASEAN. Dengan pertumbuhan pasar halal global yang terus meningkat, kolaborasi lintas negara diyakini menjadi kunci untuk menciptakan ekosistem halal yang lebih terintegrasi, kompetitif, dan berkelanjutan. (YN)

Tags:

Info
LPPOM MUI
News
Update