Kehadiran LPPOM di International Halal Symposium 2026 menegaskan halal sebagai nilai global yang menyatukan etika, keberlanjutan, dan kemanusiaan. Melalui integrasi halal ESG, LPPOM menguatkan peran halal sebagai fondasi kepemimpinan etis dunia.
LPPOM turut hadir dalam International Halal Symposium 2026 yang digelar pada 21 Januari 2026 di Menara Syariah PIK 2, Banten. Mengusung tema “Halal Beyond Compliance: A Strategic Pathway to Global Leadership”, forum hasil kolaborasi Menara Syariah, International Institute of Islamic Thought and Civilisation (ISTAC), dan International Islamic University Malaysia (IIUM) ini menjadi panggung global yang menunjukkan bahwa halal kini tak lagi sekadar soal kepatuhan, melainkan telah berkembang menjadi nilai universal yang membentuk arah pembangunan berkelanjutan, keseimbangan peradaban, dan kepemimpinan moral dunia.
Dalam konteks inilah, kehadiran LPPOM menjadi sangat relevan. LPPOM tidak lagi tampil hanya sebagai Lembaga Pemeriksa Halal (LPH), tetapi sebagai penggerak integrasi halal dengan agenda ESG (Environmental, Social, and Governance). Halal diposisikan sebagai nilai yang hidup yang menyatu dengan kepedulian terhadap lingkungan, tanggung jawab sosial, serta tata kelola yang beretika. Pendekatan ini menjadikan halal bukan hanya penting secara regulatif, tetapi juga bermakna secara sosial dan peradaban.
Dalam Panel Discussion bertajuk “Halal in a Global Context: Wisdom Leadership for Sustainable Humanity and Development”, Raafqi Ranasasmita, M.Biomed., selaku Vice President Corporate Secretary LPPOM memberikan pemaparannya bertajuk “Fostering Halal & ESG: LPPOM’s Experience in Navigating the Intersection”. Ia menegaskan bahwa halal dan ESG sejatinya berada dalam satu jalur nilai yang sama.
Integrasi tersebut diwujudkan LPPOM melalui pembangunan Inclusive & Green Workspace, dengan ruang kerja inklusif, pelatihan bahasa isyarat, fasilitas khusus, serta program daur ulang yang berhasil menekan emisi CO₂ hingga 1.566 ton. Di sisi sosial, program CSR LPPOM menjangkau 37 institusi kemanusiaan dengan ribuan penerima manfaat, diperkuat dengan pelaksanaan CSR – Festival Syawal yang melibatkan 9.954 peserta, serta capaian 1.531 sertifikat halal.
Komitmen ini juga tercermin dari pendekatan Excellent Care yang menempatkan kesejahteraan karyawan sebagai bagian penting dari keberlanjutan organisasi. LPPOM menyediakan berbagai fasilitas pendukung, mulai dari area olahraga, alat pijat, kafetaria, ruang laktasi, hingga ruang P3K, sebagai wujud kepedulian terhadap kualitas hidup sumber daya manusia.
Dari sisi tata kelola, LPPOM menerapkan pendekatan Measuring Outcomes melalui Gallup 13 Engagement Question, yang menunjukkan peningkatan skor keterikatan karyawan hingga 92,32 persen. Upaya ini diperkuat dengan berbagai penghargaan, seperti Corporate Secretary Champions 2023, Most Extraordinary Business Leaders 2024, Best NGO Initiatives, serta Global Islamic Finance Awards 2025.
Dorongan integrasi halal dan ESG juga diwujudkan secara lebih sistematis melalui inisiasi Green Halal Ratings Framework. Kerangka ini mengintegrasikan prinsip halal dan keberlanjutan melalui lima pilar utama: Governance & Policy, Human Capital & Culture, Supply Chain & Materials, Products, serta Monitoring & Evaluation. Framework ini dirancang sebagai sistem penilaian terstruktur untuk memastikan nilai halal, keberlanjutan, tata kelola, dan transparansi berjalan seiring dalam seluruh proses organisasi dan rantai nilai.
Kerangka ini telah dipresentasikan dalam AZHAB Forum pada Juni 2025 lalu di Baku, Azerbaijan, dan dikembangkan dalam tiga level implementasi, yaitu Bronze sebagai tahap kepatuhan dasar, Silver sebagai level Halal Sustainable Practitioner, dan Gold sebagai level tertinggi Green Halal Champion. Struktur ini memberikan arah pengembangan yang jelas, membantu pengambilan keputusan yang lebih etis, mendorong adopsi ESG, serta memperkuat kontribusi halal dalam agenda kebijakan keberlanjutan global.
Dalam penutup pemaparannya, Raafqi menegaskan bahwa integrasi halal dan ESG merupakan tanggung jawab bersama. “Sebagai stakeholder industri halal Indonesia, kita memiliki tanggung jawab untuk menjaga manusia dan lingkungan. Ketika kita berbicara tentang halal dan ESG, saya percaya bahwa kita harus memperluas makna sertifikasi halal, tidak hanya pada apa yang kita ucapkan, tetapi salah satunya mengintegrasikan halal dengan ESG. Saya rasa kita sudah di jalur yang tepat. Semoga kita dapat terus mengeksplorasi dan mengembangkan hal ini bersama.”
Pada sesi diskusi panel ini, Raafqi ditemani dua narasumber lainnya, yakni Hastrini Nawir, Direktur Eksekutif Halal Madani Joint Institution (BHM) dan Prof. Dr. Euis Amalia, M.Ag. (Kepala Bidang Ekonomi dan Keuangan Syariah, Pengembangan Sumber Daya Manusia (Human Resource Development), IAEI, serta Guru Besar Ekonomi Islam, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta); yang juga dimoderatori oleh Nina Sutrisno, M.Pd. (Kepala Subbagian Tata Usaha Deputi Bidang Kemitraan dan Standardisasi Halal). Forum ini membahas halal sebagai kerangka etika universal dalam pembangunan sosial-ekonomi dan keseimbangan peradaban dunia. Melalui diskusi ini, LPPOM mempertegas perannya sebagai penghubung antara nilai halal, etika global, dan keberlanjutan.
Melalui partisipasinya di International Halal Symposium 2026, LPPOM tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi sebagai penggerak gagasan dan praktik integrasi halal ESG di tingkat global. LPPOM menempatkan halal sebagai kekuatan nilai yang tidak hanya menjawab standar kepatuhan, tetapi juga membentuk arah kepemimpinan etis, keberlanjutan, dan peradaban dunia. Dengan pendekatan yang adaptif, implementatif, dan visioner, LPPOM menegaskan perannya dalam membangun masa depan halal yang berkelanjutan, berkeadaban, dan berpihak pada kemanusiaan. (YN)