Search
Search

Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) LPPOM Sertifikasi Halal

Hidup bukan tentang lamanya waktu, tetapi tentang legasi yang ditinggalkan. Wakil Ketua Umum MUI, KH. Marsudi Syuhud, mengingatkan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama, karena manfaat itulah yang menjadi jejak abadi di dunia dan akhirat.

Setiap orang lahir, tumbuh, dan pada akhirnya akan pergi meninggalkan dunia. Pertanyaan sesungguhnya adalah: apa yang akan tersisa setelah kita tiada? Apakah hanya sekadar nama yang perlahan dilupakan, ataukah karya, amal, dan jejak kebaikan yang terus hidup meski raga sudah tiada? Pertanyaan inilah yang disampaikan Wakil Ketua Umum MUI, KH. Marsudi Syuhud.

Marsudi menjelaskan bahwa setiap manusia sudah memiliki spesifikasi masing-masing, seperti halnya kendaraan. Dari spesifikasi itu, ada hal-hal yang sudah pasti, ada yang bisa berubah, dan ada pula yang bergantung pada sebab-akibat. Di titik inilah manusia dituntut untuk berusaha, memanfaatkan peluang, dan menghasilkan sesuatu yang berarti.

Sebagai teladan, KH. Marsudi Syuhud mencontohkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah tidak hanya diingat setelah wafat, bahkan sebelum lahir pun sudah disebut dalam kitab-kitab terdahulu. Nama Ahmad telah dikenal jauh sebelum kelahirannya. Berbeda dengan manusia biasa yang hanya dikenang karena karya, amal, dan peninggalan. “Yang bikin diingat, yang bikin orang mengenang, itu karya cipta kita, amaliah kita, legasi kita,” tegasnya.

Karena itu, Rasulullah membimbing umatnya langkah demi langkah agar meninggalkan sesuatu yang bermanfaat. Hidup tidak boleh berlalu begitu saja tanpa warisan. Di mana pun posisi seseorang, bagaimana pun kondisinya, niat hidup haruslah untuk meninggalkan jejak. 

Allah berfirman, “Tsumma auratsnal kitaaballadziinashthofainaa min ‘ibaadinaa.” Dari ayat ini, KH. Marsudi Syuhud menjelaskan bahwa orang pilihan terbagi menjadi tiga. Pertama, dhoolimun linafsih, yakni mereka yang rajin bicara sebelum diberi jabatan, penuh janji ingin berbuat banyak, tetapi setelah diberi amanah justru hilang tanpa karya. “Cuma nyetak kartu nama, lalu hilang. Di organisasi ada tipe begini,” ujarnya.

Kedua, muqtashid, orang yang hidupnya biasa-biasa saja. Kadang hadir, kadang tidak. Kadang bekerja, kadang malas. Hidupnya sekadar berjalan. Dan ketiga, saabiqun bil khairaat, mereka yang selalu berlomba-lomba dalam kebaikan. Inilah tipe orang kreatif, penuh inisiatif, dan berusaha memberikan manfaat sebesar-besarnya. Menurut dia, hanya tipe terakhir inilah yang benar-benar memiliki legasi.

Agama sendiri sudah mendorong umat untuk membangun warisan kebaikan. KH. Marsudi Syuhud mengutip firman Allah, “Innal mushoddiqiina wal mushoddiqoot wa aqradoo Allaha qardhon hasanan yudho’afu lahum walahum ajrun kariim.” Artinya: Orang yang bersedekah dengan pikiran, tenaga, maupun waktu demi Allah akan mendapat balasan berlipat ganda. Bahkan dalam bekerja, jika diniatkan karena Allah, juga bisa menjadi qardhon hasanan. 

Rasulullah sendiri meninggalkan warisan besar berupa masjid, pasar, Al-Qur’an, hadis, ilmu, dan amal yang terus hidup hingga kini. Para ulama pun dikenang karena meninggalkan pesantren, ilmu, dan amal yang bermanfaat. “Jangan hanya meninggalkan sepiteng (septic tank, ed.). Hiduplah untuk meninggalkan manfaat,” pesannya.

Untuk memperjelas, beliau mengisahkan tentang tiga pekerja pemecah batu. Yang pertama berkata, “Capek, kerja susah, gaji kecil, panas.” Itulah tipe dhoolimun linafsih. Yang kedua berkata, “Ya syukur masih ada kerja, walau berat, yang penting bisa makan keluarga.” Inilah tipe muqtashid

Sedangkan yang ketiga menjawab penuh semangat, “Saya sedang membangun gedung pencakar langit. Suatu hari saya akan bilang pada anak cucu saya: gedung itu saya ikut membangunnya.” Inilah tipe saabiqun bil khairaat. Dari kisah sederhana ini, KH. Marsudi Syuhud mengajak hadirin bercermin: lebih banyak yang masuk kategori pertama, kedua, atau ketiga?

Marsudi Syuhud mengingatkan sabda Rasulullah bahwa ketika manusia meninggal, amalnya terputus kecuali tiga hal: amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakan. Karena itu, waktu, tenaga, dan pikiran seharusnya digunakan untuk hal-hal yang memberi manfaat. 

Sejarah sudah membuktikan, para kiai yang mendirikan pesantren meninggalkan legasi besar hingga melahirkan organisasi. Dari berbagai organisasi dan lembaga, lahir tokoh-tokoh yang berperan penting dalam sejarah bangsa, bahkan ikut mendirikan Republik Indonesia. Sebuah bukti nyata bahwa amal baik bisa berdampak luas, jauh melampaui usia manusia.

Menutup pesannya, KH. Marsudi Syuhud mengingatkan pentingnya rasa syukur. Tubuh, pikiran, mata, dan telinga adalah anugerah yang harus dimanfaatkan untuk berkarya. Amal baik akan disaksikan Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman. Karena itu, yang terpenting bukanlah banyak bicara, melainkan bekerja dengan ikhlas dan penuh kreativitas. “Cara berpikir sederhana saja, seperti tukang batu yang ketiga tadi: bekerja kreatif, kreatif, kreatif. Tinggalkan karya yang nyata,” ujarnya.

Pada akhirnya, hidup adalah kesempatan yang tidak akan pernah terulang. Tak seorang pun tahu kapan waktunya berakhir. Namun, setiap orang bisa memilih apakah ingin sekadar dikenang lewat nama, atau benar-benar diingat karena manfaat yang ditinggalkan. 

Setiap langkah, setiap tetesan keringat, dan setiap pekerjaan bisa menjadi legasi jika diniatkan karena Allah. Maka jangan menunggu esok untuk berbuat baik, sebab esok belum tentu milik kita. Mulailah hari ini, berikan yang terbaik, dan tinggalkan jejak kebaikan yang abadi, bersama doa anak cucu serta pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. (YN)

Sumber : Jurnal Halal 176 https://halalmui.org/jurnal-halal/176/