oleh Fadila (Auditor Halal LPH LPPOM)
Saat ini layanan pesan antar makanan semakin mudah diakses dan menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat. Banyak pilihan makanan yang menarik, mulai dari yang sedang viral hingga yang direkomendasikan influencer. Sebagai konsumen Muslim, apa saja yang perlu diperhatikan agar makanan yang dipesan tetap memenuhi prinsip halal dan thayyib?
Saat ini layanan pesan antar makanan semakin mudah diakses dan menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat. Banyak pilihan makanan yang menarik, mulai dari yang sedang viral hingga yang direkomendasikan influencer. Sebagai konsumen Muslim, apa saja yang perlu diperhatikan agar makanan yang dipesan tetap memenuhi prinsip halal dan thayyib?
Kemajuan teknologi digital telah membawa banyak kemudahan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam hal membeli makanan. Hanya dengan beberapa sentuhan di telepon genggam, berbagai menu dapat dipilih dan diantarkan langsung ke rumah. Namun, di balik kemudahan tersebut, seorang Muslim tetap memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa makanan yang dikonsumsi tidak hanya menarik dari segi rasa dan tampilan, tetapi juga halal dan baik (thayyib).
Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah status kehalalan restoran atau penyedia makanan. Jangan mudah tergiur hanya karena makanan sedang viral, mendapatkan banyak ulasan positif, atau dipromosikan oleh figur publik. Pastikan terlebih dahulu bahwa produk yang ditawarkan berasal dari restoran yang telah memiliki sertifikat halal. Sertifikasi halal memberikan jaminan bahwa bahan baku, proses produksi, penyimpanan, hingga penyajian makanan telah memenuhi ketentuan syariat Islam. Saat ini, informasi mengenai sertifikasi halal umumnya dapat ditemukan pada aplikasi pemesanan makanan, media sosial, maupun kanal resmi restoran.
Konsumen juga perlu berhati-hati terhadap restoran yang hanya mencantumkan klaim halal tanpa didukung sertifikasi yang jelas. Dalam kondisi seperti ini, penting untuk melakukan pengecekan lebih lanjut. Perhatikan apakah restoran tersebut juga menjual minuman beralkohol atau menyediakan menu yang jelas tidak halal. Kehadiran produk-produk tersebut perlu dicermati karena berkaitan dengan pengelolaan bahan, penyimpanan, penggunaan peralatan, hingga proses penyajian yang berpotensi menimbulkan keraguan terhadap kehalalan produk lain apabila tidak dikelola sesuai ketentuan.
Selain itu, aspek kehalalan juga perlu diperhatikan pada proses distribusi. Untuk makanan kering yang dikirim melalui jasa pengantaran atau ekspedisi, kemasan harus mampu melindungi produk dari risiko kontaminasi selama perjalanan. Demikian pula untuk produk yang memerlukan rantai dingin (cold chain), karena armada berpendingin sering digunakan untuk mengangkut berbagai jenis produk secara bersamaan. Oleh karena itu, penting bagi pelaku usaha untuk memastikan produk dikemas dengan baik dan menggunakan layanan distribusi yang mampu menjaga integritas produk halal hingga sampai ke tangan konsumen.
Namun, Islam tidak hanya mengajarkan pentingnya makanan yang halal, tetapi juga makanan yang baik atau thayyib. Karena itu, konsumen Muslim tidak cukup hanya memastikan kehalalan suatu produk, tetapi juga perlu memperhatikan kualitas gizi dan dampaknya bagi kesehatan. Di era layanan pesan antar, godaan untuk mengonsumsi makanan cepat saji, minuman manis, serta makanan tinggi gula, garam, dan lemak semakin besar. Padahal, konsumsi berlebihan dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit seperti obesitas, diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung.
Karena itu, penting untuk tetap menerapkan pola makan yang seimbang. Pilih makanan yang mengandung sumber protein, sayuran, buah-buahan, serta cukupi kebutuhan air putih. Batasi konsumsi makanan dan minuman tinggi gula, garam, dan lemak, meskipun mudah ditemukan dan sering ditawarkan melalui berbagai promo menarik.
Islam juga mengajarkan adab makan yang selaras dengan prinsip kesehatan modern. Rasulullah saw. menganjurkan umatnya untuk tidak berlebihan dalam makan. Kebiasaan makan secukupnya dan berhenti sebelum kenyang merupakan bentuk pengendalian diri yang memberikan manfaat bagi kesehatan tubuh. Sayangnya, berbagai promo seperti paket jumbo, diskon besar, atau pembelian dalam jumlah berlebih sering kali mendorong konsumen untuk mengonsumsi makanan melebihi kebutuhan.
Di sisi lain, Islam mengajarkan nilai keberkahan dan kebersamaan dalam mengonsumsi makanan. Ketika memesan makanan secara online, semangat berbagi dapat diwujudkan dengan membeli sesuai kebutuhan, menghindari pemborosan, dan berbagi dengan keluarga, tetangga, atau mereka yang membutuhkan. Selain memberikan manfaat sosial, kebiasaan ini juga membantu mengurangi limbah makanan yang menjadi perhatian dunia saat ini.
Pada akhirnya, teknologi merupakan sarana yang dapat memberikan banyak manfaat apabila digunakan secara bijak. Saat memesan makanan secara online, seorang Muslim hendaknya tidak hanya mempertimbangkan rasa, harga, atau popularitas suatu produk, tetapi juga memastikan kehalalannya, memperhatikan kualitas gizinya, serta menjaga adab dalam mengonsumsinya. Dengan menerapkan prinsip halalan thayyiban, layanan pesan makanan online tidak hanya menjadi solusi praktis, tetapi juga dapat menghadirkan keberkahan dalam kehidupan sehari-hari. (***)