Muharram menjadi momentum hijrah untuk memperbaiki diri, memperkuat hubungan dengan Allah SWT, serta membangun kesehatan mental dan keharmonisan keluarga. Melalui syukur, husnuzan, dan kedekatan emosional dalam keluarga, setiap Muslim diajak menghadirkan ketenangan hati dan keberkahan dalam kehidupan sehari-hari.
Muharram selalu hadir membawa suasana yang berbeda. Sebagai bulan pertama dalam kalender Hijriah, Muharram bukan sekadar penanda pergantian tahun, tetapi juga momentum untuk berhenti sejenak, menengok perjalanan yang telah dilalui, lalu bertanya kepada diri sendiri: sudah sejauh mana kita menjadi pribadi yang lebih baik?
Bagi umat Islam, Muharram identik dengan semangat hijrah. Namun, hijrah tidak hanya dimaknai sebagai perpindahan dari satu tempat ke tempat lain sebagaimana yang dilakukan Rasulullah saw. Lebih dari itu, hijrah adalah perjalanan memperbaiki diri, meninggalkan kebiasaan yang kurang baik, serta terus berusaha mendekat kepada Allah SWT dalam setiap aspek kehidupan.
Dalam sebuah kajian LPPOM di kantor Global Halal Center (GHC), Ust. Suhendi Alkhathab, Da’i MUI dan Dosen Fatahillah, mengajak jamaah untuk memaknai Muharram sebagai waktu yang tepat untuk melakukan evaluasi diri, baik dalam kehidupan pribadi, pekerjaan, maupun keluarga.
“Hijrah bukan hanya berpindah tempat. Hijrah adalah proses memperbaiki diri, meninggalkan hal-hal yang kurang baik, dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik dalam urusan dunia maupun akhirat,” ujarnya.
Pesan tersebut selaras dengan doa yang Allah SWT ajarkan dalam Surah Al-Furqan ayat 74: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan sebagai penyejuk mata kami, serta jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”
Ayat ini menunjukkan bahwa ketakwaan tidak hanya diukur dari kualitas ibadah personal seseorang. Ketakwaan juga tercermin dari bagaimana seseorang membangun keluarganya, mendidik anak-anaknya, menjaga hubungan dengan pasangan, serta menghadirkan ketenangan dan kebaikan bagi orang-orang di sekitarnya.
Karena itulah, Muharram menjadi momentum yang tepat untuk memperbaiki hubungan dengan Allah sekaligus memperbaiki hubungan dengan keluarga. Di tengah kehidupan yang semakin sibuk dan penuh tekanan, dua hal ini justru menjadi fondasi penting bagi kesehatan mental seseorang.
Ketika Mental yang Sehat Tidak Selalu Tentang Bebas Masalah
Belakangan ini, pembahasan mengenai kesehatan mental semakin sering terdengar. Namun, tidak sedikit orang yang masih memahami kesehatan mental sebatas kondisi bebas dari gangguan psikologis. Padahal, maknanya jauh lebih luas.
Menurut Ust. Suhendi, salah satu ciri utama mental yang sehat adalah hadirnya rasa sejahtera dalam hidup. Sejahtera bukan berarti memiliki semua yang diinginkan, melainkan mampu menikmati dan mensyukuri apa yang sudah dimiliki.
Kita sering menjumpai orang yang hidup berkecukupan tetapi selalu merasa kurang. Sebaliknya, ada pula mereka yang hidup sederhana namun terlihat tenang dan bahagia. Perbedaannya sering kali terletak pada cara memandang nikmat yang Allah berikan.
“Orang yang sehat mentalnya bukan orang yang memiliki segalanya, tetapi orang yang mampu bersyukur atas apa yang Allah berikan sehingga hatinya merasa cukup,” jelas Ust. Suhendi.
Rasa cukup inilah yang membuat seseorang lebih damai dalam menjalani kehidupan. Ia tidak terus-menerus membandingkan dirinya dengan orang lain atau merasa tertinggal oleh pencapaian orang lain.
Selain itu, mental yang sehat juga tercermin dari produktivitas. Bukan hanya produktif dalam pekerjaan atau menghasilkan pendapatan, tetapi produktif dalam memberikan manfaat.
Seorang ibu yang mendampingi tumbuh kembang anak dengan penuh kasih sayang, ayah yang bekerja keras untuk keluarganya, guru yang mengajarkan ilmu, atau siapa saja yang berusaha memberi manfaat kepada lingkungan sekitarnya, sesungguhnya sedang menjalankan bentuk produktivitas yang bernilai tinggi.
Mental yang sehat juga ditandai dengan kemampuan menghadapi tekanan hidup secara bijak. Sebab, tidak ada manusia yang bebas dari masalah. Yang membedakan adalah bagaimana seseorang merespons masalah tersebut.
Ketika ujian datang, seseorang yang sehat secara mental tidak membiarkan dirinya tenggelam dalam keputusasaan. Ia berusaha melihat hikmah di balik setiap peristiwa dan meyakini bahwa pertolongan Allah selalu lebih besar daripada kesulitan yang sedang dihadapi.
Syukur dan Husnuzan, Penjaga Ketenangan Hati
Dalam Islam, kesehatan mental memiliki hubungan yang sangat erat dengan rasa syukur. Syukur membuat seseorang lebih fokus pada nikmat yang dimiliki daripada kekurangan yang dirasakan.
Saat seseorang terbiasa mensyukuri hal-hal kecil dalam hidupnya, hatinya akan lebih mudah merasa tenang. Ia tidak sibuk menyalahkan keadaan, masa lalu, ataupun orang lain atas segala sesuatu yang terjadi dalam hidupnya.
Namun hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan. Ada doa yang belum dikabulkan, ada cita-cita yang tertunda, dan ada rencana yang tidak berjalan sebagaimana yang diinginkan.
Di sinilah pentingnya husnuzan atau berbaik sangka kepada Allah SWT. Bagi seorang mukmin, setiap peristiwa yang terjadi selalu mengandung hikmah. Mungkin hari ini kita belum memahami alasannya, tetapi Allah SWT mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya.
“Tidak ada doa yang tertolak. Bisa jadi Allah sedang menyiapkan hadiah terbaik pada waktu yang paling tepat. Tugas kita adalah terus berikhtiar dan tetap berbaik sangka kepada-Nya,” tutur Ust. Suhendi.
Sikap husnuzan inilah yang menjadi sumber kekuatan batin ketika seseorang menghadapi masa-masa sulit. Ia tetap optimistis karena percaya bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.
Kesehatan Mental Berawal dari Kesehatan Spiritual
Menurut Ust. Suhendi, kesehatan mental dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari faktor biologis, psikologis, hingga spiritual. Namun, aspek spiritual memiliki posisi yang sangat penting karena menjadi sumber ketenangan yang paling mendasar.
Ketika hubungan dengan Allah SWT terjaga, seseorang memiliki tempat bersandar yang tidak pernah mengecewakan. Ia sadar bahwa setiap persoalan dapat dibawa dalam doa dan setiap kesedihan dapat diadukan kepada Sang Pencipta. Salah satu amalan yang sangat dianjurkan untuk menjaga kesehatan spiritual adalah shalat tahajud.
Di saat kebanyakan manusia terlelap, seorang hamba bangun untuk bermunajat kepada Allah. Pada waktu itulah hati menjadi lebih jujur, doa terasa lebih khusyuk, dan hubungan dengan Allah terasa lebih dekat.
Selain tahajud, menjaga shalat sunnah qabliyah dan ba’diyah, memperbanyak membaca Al-Qur’an, serta membiasakan zikir juga menjadi ikhtiar yang dapat menjaga ketenangan jiwa.
Ibadah yang dilakukan secara konsisten bukan hanya memperkuat hubungan dengan Allah, tetapi juga membantu menjaga kestabilan emosi dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan.
Membangun Kedekatan Emosional dalam Keluarga
Di tengah berbagai tuntutan kehidupan modern, keluarga seharusnya menjadi tempat pulang yang paling menenangkan. Sayangnya, tidak sedikit keluarga yang secara fisik tinggal serumah, tetapi secara emosional justru saling berjauhan.
Kesibukan pekerjaan, aktivitas yang padat, serta penggunaan gawai yang berlebihan sering kali mengurangi kualitas komunikasi di dalam rumah.
Padahal, emotional bonding dalam keluarga tidak selalu membutuhkan sesuatu yang besar dan rumit. Kedekatan emosional justru sering tumbuh dari hal-hal sederhana yang dilakukan secara konsisten.
Makan bersama, berbincang tanpa gangguan telepon genggam, mendengarkan cerita pasangan dan anak-anak, mengucapkan terima kasih, meminta maaf, atau sekadar menanyakan kabar merupakan bentuk perhatian yang sangat berarti.
Perhatian-perhatian kecil tersebut membuat setiap anggota keluarga merasa dihargai, didengar, dan dicintai.
Selain itu, keluarga juga perlu memiliki momen ibadah bersama. Shalat berjamaah, membaca Al-Qur’an, menghadiri kajian, atau berdiskusi tentang nilai-nilai Islam dapat memperkuat hubungan emosional sekaligus hubungan spiritual antaranggota keluarga.
Ust. Suhendi juga mengingatkan pentingnya budaya saling mengevaluasi dalam rumah tangga.
Pasangan suami istri perlu sesekali bertanya satu sama lain: apa yang masih perlu diperbaiki, apa yang bisa ditingkatkan, dan bagaimana menjadi pasangan yang lebih baik dibandingkan hari kemarin. Dengan cara itulah proses hijrah dapat terus berlangsung dalam kehidupan keluarga.
Menjadikan Muharram sebagai Awal Perubahan
Pada akhirnya, spirit Muharram mengajarkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Hijrah bukan hanya tentang menjadi lebih rajin beribadah, tetapi juga tentang menjadi pribadi yang lebih tenang, lebih bersyukur, lebih mampu mengelola emosi, dan lebih hadir untuk keluarga.
Muharram mengajak kita berhijrah dari keluh kesah menuju syukur, dari prasangka buruk menuju husnuzan, dan dari hubungan keluarga yang renggang menuju keluarga yang penuh kasih sayang.
Sebab keluarga yang kuat tidak hanya dibangun oleh kecukupan materi, tetapi juga oleh hati yang sehat, hubungan yang hangat, dan kedekatan dengan Allah SWT.
Ketika spiritualitas terjaga, kesehatan mental pun akan lebih kokoh. Dan ketika kesehatan mental serta kedekatan emosional dalam keluarga tumbuh dengan baik, rumah akan menjadi tempat yang menghadirkan ketenangan, keberkahan, dan kebahagiaan bagi seluruh penghuninya.
Semoga Muharram tahun ini menjadi titik awal hijrah menuju keluarga yang lebih harmonis, lebih sehat secara mental, dan lebih dekat kepada Allah SWT. Aamiin. (DS)Sumber: https://halalmui.org/jurnal-dan-direktori-halal/