Search
Search

Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) LPPOM Sertifikasi Halal

Etos Kerja Berbasis Iman dan Takwa

Di tengah hiruk-pikuk dunia kerja yang kian kompetitif, sering kali kita lupa bahwa bekerja bukan hanya soal memenuhi target, mengejar promosi, atau sekadar mendapat gaji bulanan. Dr. H. Kiai Amirsyah Tambunan, M.A., Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI), mengajak kita merenung lebih dalam: bagaimana jika pekerjaan yang kita jalani selama ini justru menjadi ladang pahala?

Dalam keseharian kita, istilah “iman dan takwa” seringkali terdengar dalam khutbah, pengajian, atau tertulis dalam peraturan dan undang-undang. Namun, di luar ruang-ruang normatif itu, konsep iman dan takwa kerap kali terpisah dari realitas kerja dan rutinitas profesional.

Padahal, jika dipahami secara utuh, iman dan takwa bisa menjadi dasar yang kuat dalam membentuk etos kerja yang produktif, membahagiakan, bahkan bernilai ibadah.

Etos kerja berbasis iman dan takwa bukan hanya sekadar wacana religius, melainkan landasan praktis dalam menjalani profesi dan kehidupan. Iman dan takwa akan menjadi luar biasa ketika benar-benar menjiwai cara seseorang bekerja. Iman tidak hanya berhenti di masjid atau pengajian. Ia harus menjadi prinsip dalam bekerja. Tanpa itu, pekerjaan bisa menjadi sia-sia sekadar mengejar dunia.

Banyak pekerjaan hari ini hanya berorientasi pada hasil material, seperti gaji dan prestise, namun kehilangan aspek spiritualnya. Padahal, dalam Islam, pekerjaan bukan sekadar aktivitas ekonomi, tapi juga merupakan jalan ibadah.

Ada lima unsur utama dalam membangun etos kerja yang dilandasi iman dan takwa, yakni:

1. Keikhlasan dalam Bekerja

Ikhlas adalah ruh utama dalam pekerjaan. Tanpa keikhlasan, seseorang mudah kecewa dan merasa terbebani. Kalau setiap hari kecewa, merasa tidak dihargai, berarti belum ikhlas. Padahal pekerjaan yang dilakukan dengan ikhlas justru meringankan hati dan mendatangkan keberkahan.

2. Kebahagiaan sebagai Hasil Jiwa yang Menyatu dengan Pekerjaan

Pekerjaan seharusnya menjadi sumber kebahagiaan, bukan tekanan. Ketika seseorang menyukai apa yang ia kerjakan dan menjiwainya, maka pekerjaan akan terasa ringan, bahkan membahagiakan. Ada orang gaji miliaran tapi tetap gelisah. Ada juga yang gaji pas-pasan tapi hidupnya tenang. Itu karena hatinya bahagia dan pekerjaannya dilandasi iman.

3. Menjadikan Pekerjaan Sebagai Ibadah

Dalam Islam, ibadah tidak hanya salat dan puasa, tetapi juga mencakup seluruh aktivitas positif yang diniatkan karena Allah. Bekerja untuk menafkahi keluarga, membantu sesama, bahkan memberi senyum ke rekan kerja, itu semua ibadah jika diniatkan karena Allah.

4. Etos Kerja yang Terukur

Seorang pekerja profesional harus punya target dan indikator pencapaian yang jelas. Misalnya kalau kita di laboratorium punya 10 sampel, selesaikan dengan baik. Ada kepuasan batin yang muncul ketika pekerjaan tuntas. Ini juga bagian dari kebahagiaan. Capaian performance indicators untuk menjaga semangat dan arah kerja juga menjadi sesuatu yang sangat penting.

5. Kesadaran Akan Nilai Spiritual dari Iman dan Takwa

Iman dan takwa bukan hanya soal ritual, tapi menjadi modal spiritual dalam bekerja. Dalam Al-Qur’an, disebutkan bahwa orang bertakwa akan dimudahkan rezekinya dari arah yang tak disangka-sangka. Rezeki bukan hanya soal materi. Bisa sehat, punya keluarga harmonis, atau suasana kerja yang menyenangkan. Itu semua rezeki.

Oleh karena itu, penting untuk tidak memisahkan antara dunia dan akhirat dalam konteks bekerja. Dunia adalah ladang, akhirat adalah panen. Apa yang ditanam hari ini—niat baik, etos kerja, keikhlasan—akan berbuah kebaikan di masa depan. Bekerja bukan sekadar mencari nafkah, tapi niatkan sebagai investasi amal. Kalau niatnya karena Allah, hasilnya pun berkah. Bahkan, amal sekecil apa pun, seperti sedekah seribu dua ribu rupiah, bisa menjadi amal jariyah.

Realitas ketimpangan kekayaan di masyarakat kadang justru mendatangkan malapetaka. Kekayaan tanpa kesadaran spiritual bisa membuat seseorang lupa bahwa harta adalah titipan. Banyak orang yang mempunyai harta tujuh keturunan, tapi tidak tahu mau diapakan hartanya. Akhirnya, bukan bahagia yang didapat, tapi keresahan.

Dalam kehidupan profesional, kita dihadapkan pada rutinitas dan target. Namun, Kiai Amirsyah mengingatkan agar jangan sampai kita berubah menjadi “robot kerja” yang dikendalikan oleh sistem tanpa arah spiritual. Bekerja, bekerja, dan bekerja. Tapi untuk apa? Jangan sampai kita hanya menjadi mesin tanpa jiwa.

Saat bekerja dalam tim, penting untuk saling berbagi dan saling menyenangkan. Tidak cukup hanya menjadi profesional yang hebat secara individu, tetapi juga harus membangun suasana kerja yang kolektif, sinergis, dan menyenangkan. Menyenangkan orang lain itu ibadah. Kalau pekerjaan kita menyusahkan orang lain, itu sia-sia.

Masa lalu sudah berlalu, masa depan belum pasti, yang kita punya hanya saat ini. Karenanya, manfaatkan waktu sekarang dengan sebaik-baiknya untuk membangun amal. Kata Rasulullah, bekerjalah seakan-akan engkau mati besok, dan beramallah seakan-akan hidup selamanya. Dunia ini tempat bertani, akhirat tempat memanen. Maka tanamkan amal-amal baik lewat pekerjaan yang kita lakukan hari ini.

Dalam konteks organisasi, nilai-nilai iman dan takwa seharusnya menjadi fondasi budaya kerja. Membangun keikhlasan, menghadirkan kebahagiaan, meniatkan sebagai ibadah, menyusun target terukur, dan menanamkan nilai iman dan takwa semua ini adalah pilar membangun tim kerja yang profesional, tangguh, dan bermakna. Masa depan harus lebih baik, baik di dunia maupun akhirat. Semua itu bisa kita mulai hari ini, dari pekerjaan kita masing-masing. (YN)

//
Assalamu'alaikum, Selamat datang di pelayanan Customer Care LPPOM
👋 Apa ada yang bisa kami bantu?