Artikel & Berita Halal

Sertifikasi Halal untuk Banyak SKU: 7 Strategi Menentukan Prioritas Produk dan Supplier

Muhammad Agus Fikri
Muhammad Agus Fikri

Mengurus sertifikasi halal untuk lima produk dengan dua pemasok memang bisa selesai lewat satu spreadsheet dan beberapa kali telepon. Lain ceritanya kalau perusahaan punya ratusan SKU, puluhan pemasok, dan lebih dari satu pabrik, karena satu dokumen bahan yang tertahan di pemasok bisa menahan puluhan produk sekaligus. Pertanyaannya pun bergeser dari “bagaimana cara mendapat sertifikat halal?” menjadi “produk mana yang diajukan lebih dulu, bahan mana yang diperiksa duluan, dan pemasok mana yang dokumennya harus dikejar sekarang”.

BPJPH menyatakan tahap kewajiban halal berikutnya berlaku mulai 18 Oktober 2026, berdasarkan UU No. 33 Tahun 2014 dan PP No. 42 Tahun 2024. Cakupannya meliputi makanan dan minuman, kosmetik, obat bahan alam, kuasi, suplemen kesehatan, produk kimiawi, produk rekayasa genetik, bahan baku, bahan tambahan pangan, bahan penolong, hingga sejumlah barang gunaan. Tahap ini memperluas kewajiban ke produk usaha mikro dan kecil serta produk impor, melanjutkan penahapan bagi usaha menengah dan besar yang dimulai pada Oktober 2024.

Kabar baiknya, Anda tidak harus menyelesaikan semua SKU sekaligus. Bagi bisnis F&B, manufaktur, kosmetik, consumer goods, private label, maupun maklon, kuncinya ada di urutan kerja: produk mana dulu, bahan mana dulu, pemasok mana dulu. Tujuh strategi berikut bisa mulai Anda terapkan minggu ini dengan spreadsheet biasa.

Mengapa Banyak SKU Membuat Sertifikasi Halal Lebih Rumit?

Bayangkan sebuah perusahaan dengan 150 SKU makanan dan minuman, 80 jenis bahan baku, 25 pemasok, tiga fasilitas produksi, dan beberapa bahan impor yang dipakai bersama oleh banyak produk. Kalau semuanya diproses tanpa Peta Halal (Halal Mapping), tim internal akan tenggelam dalam dokumen.

Kerumitannya datang dari keterkaitan antardata. Satu pergantian pemasok bisa memengaruhi belasan SKU sekaligus, dan satu bahan yang status kehalalannya belum jelas bisa menahan semua produk yang memakainya. Karena itu, urutan pengajuan sebaiknya tidak ditentukan oleh produk mana yang dibuat lebih dulu atau mana yang paling laku saja. Dampak bisnis, kerumitan bahan, kesiapan dokumen, dan risiko di proses produksi perlu dilihat bersamaan, karena pemeriksaan halal sendiri menilai bahan, proses produk halal, fasilitas, dan penerapan Sistem Jaminan Produk Halal (SJPH).

Langkah Pertama: Buat Peta Halal (Halal Mapping)

Jangan langsung mendaftarkan semua produk. Mulailah dengan satu tabel induk yang mencatat setiap SKU beserta data berikut:

Kelompok dataKolom yang dicatat
ProdukNama produk, kategori, status sertifikasi saat ini
BahanKomposisi, daftar bahan baku, status dokumen halal tiap bahan
PemasokNama pemasok per bahan, asal bahan (lokal atau impor)
ProduksiFasilitas yang dipakai, alur proses produksi
Risiko perubahanRencana ganti bahan, ganti pemasok, atau reformulasi

Tabel ini sering memperlihatkan pola yang sebelumnya tidak terlihat. Misalnya, ternyata 60 SKU memakai bahan baku yang sama, sehingga menuntaskan dokumen satu bahan itu langsung membuka jalan bagi 60 produk. Karena itu, strategi sertifikasi halal untuk banyak produk sebaiknya dimulai dari level bahan dan proses.

7 Strategi Menentukan Prioritas Sertifikasi Halal

1. Dahulukan SKU dengan Dampak Bisnis Terbesar

Kontribusi tiap SKU tidak sama. Kelompokkan produk berdasarkan omzet, volume, margin, status produk unggulan, laju pertumbuhan, rencana peluncuran, dan perannya sebagai pintu masuk ke ritel atau marketplace.

Namun, penjualan saja tidak cukup. SKU terlaris yang memakai bahan rumit, misalnya turunan hewani impor, mungkin butuh waktu persiapan berbulan-bulan, sementara SKU dengan omzet sedikit lebih kecil tapi bahannya sederhana bisa selesai lebih cepat. Gabungkan keduanya: dampak bisnis dan kesiapan halal.

2. Cari Bahan yang Dipakai Banyak SKU

Pada portofolio besar, langkah ini biasanya berdampak paling luas. Contoh sederhananya:

SKUBahan yang dipakai
SKU ABahan X, Y, Z
SKU BBahan X, Y, W
SKU CBahan X, P, Q

Bahan X muncul di ketiga produk, dan bahan Y di dua. Jika dokumen halal bahan X dipastikan lebih dulu, ketiga SKU sudah maju selangkah sebelum pekerjaan per produk dimulai. Jadi, selain bertanya “produk mana yang mau disertifikasi?”, tanyakan juga “bahan mana yang memengaruhi SKU paling banyak?” Pendekatan ini mengurangi pekerjaan berulang dan meningkatkan efisiensi biaya sertifikasi halal.

3. Kelompokkan Supplier Berdasarkan Kesiapan Dokumen

Kesiapan tiap pemasok berbeda, dan klasifikasi sederhana seperti ini sudah cukup untuk memulai:

KelompokKondisiTindakan
A: dokumen lengkapDokumen pendukung tersedia, informasi bahan jelasVerifikasi dan arsipkan
B: sebagian lengkapBahan tersedia, sebagian dokumen perlu dilengkapi atau diverifikasiKirim daftar kekurangan dengan tenggat
C: belum jelasInformasi bahan, proses, asal, atau dokumen belum memadaiKlarifikasi intensif atau siapkan pemasok alternatif

Titik rawan terbesar ada pada pemasok kelompok B atau C yang memasok bahan kritis untuk banyak SKU, jadi tangani mereka paling awal.

4. Telusuri dari Bahan, Bukan Hanya dari Produk Akhir

Kesalahan yang cukup sering terjadi adalah terpaku pada produk jadi, padahal status halal produk ditentukan oleh bahan dan proses di belakangnya. Urutan berpikir yang lebih tepat adalah Produk → Bahan → Supplier → Proses → Fasilitas, bukan Produk → Sertifikat.

Pada kondisi tertentu, uji laboratorium bisa dipakai untuk menjawab keraguan atas bahan atau produk, misalnya kemungkinan kontaminasi bahan babi. Tidak semua produk memerlukannya; kebutuhan uji bergantung pada kondisi bahan dan ketentuan pemeriksaan.

Mau melakukan uji laboratorium? Klik di sini

5. Identifikasi Titik Kritis pada Proses yang Rumit

Produk dengan satu atau dua bahan lokal dan proses sederhana jarang menjadi masalah. Perhatian lebih dibutuhkan untuk produk yang melibatkan bahan impor, bahan turunan hewani, proses fermentasi atau pencampuran bertahap, fasilitas yang dipakai bersama produk lain, maklon, atau rantai pasok panjang.

Untuk produk seperti ini, identifikasi titik kritis halal sejak awal: semakin cepat titik kritis ditemukan, semakin banyak waktu untuk mencari bahan pengganti atau memisahkan jalur produksi sebelum audit.

6. Perhatikan Produk yang Akan Masuk Pasar Baru

Supermarket, ritel modern, marketplace, HOREKA (hotel, restoran, kafe), distributor, pasar ekspor, dan tender korporasi bisa punya persyaratan berbeda. Jika sertifikat halal menjadi syarat atau ekspektasi di channel yang dituju, masukkan produk tersebut ke daftar prioritas. Dalam kasus ini, sertifikat halal menjadi tiket masuk pasar. BPJPH sendiri menyebut sertifikasi halal memberi nilai tambah ekonomi dan mendukung daya saing produk.

7. Susun Roadmap Bertahap

Setelah data terkumpul, susun roadmap. Contoh berikut bisa disesuaikan dengan kondisi perusahaan:

TahapIsi
Prioritas 120 SKU dengan omzet terbesar dan bahan yang relatif siap
Prioritas 230 SKU yang memakai bahan sama dengan Prioritas 1
Prioritas 3SKU dengan pemasok yang masih perlu melengkapi dokumen
Prioritas 4SKU dengan bahan atau proses yang lebih rumit
Prioritas 5SKU baru atau SKU dengan kontribusi bisnis lebih kecil

Dengan cara ini, 100 SKU terbagi menjadi lima paket kerja yang bisa dijadwalkan dan dipantau satu per satu.

Cara Menentukan Prioritas Sertifikasi Halal dengan Matriks Skor

Untuk membuat urutan yang bisa dipertanggungjawabkan, beri skor 1 sampai 3 pada setiap faktor berikut, lalu jumlahkan. SKU dengan total tertinggi masuk tahap pertama.

FaktorPertanyaanSkor 3 (jika)
Dampak bisnisSeberapa besar kontribusi SKU terhadap bisnis?Termasuk produk utama
Prioritas pasarSeberapa penting produk untuk channel penjualan?Channel mensyaratkan sertifikat halal
Kesiapan bahanApakah dokumen bahan sudah tersedia?Hampir semua lengkap
Kesiapan pemasokApakah pemasok mudah diverifikasi?Sebagian besar kelompok A
Kerumitan prosesSeberapa rumit proses produksinya?Prosesnya sederhana
Bahan bersamaApakah bahannya dipakai di banyak SKU?Dipakai di banyak SKU
Prioritas regulasiApakah kategori produk sudah wajib halal atau segera wajib halal?Wajib per 18 Oktober 2026

Spreadsheet biasa sudah cukup untuk ini, asalkan semua tim memakai skala dan definisi yang sama.

Bagaimana Jika Satu Supplier Memasok Banyak Bahan?

Ukur pentingnya pemasok dari dampak bahan yang dipasoknya. Misalkan Supplier A memasok 10 bahan: tiga di antaranya dipakai oleh 40 SKU, dua dipakai oleh 20 SKU, dan lima sisanya hanya dipakai oleh satu atau dua SKU. Tiga bahan pertama jelas didahulukan karena menyentuh 40 SKU sekaligus.

Telusuri dengan alur Supplier → Bahan → SKU → Fasilitas. Dengan peta seperti ini, tim procurement, R&D, QA/QC, regulatory, dan tim halal internal bekerja dengan data yang sama.

Jangan Lupakan Sistem Jaminan Produk Halal (SJPH)

Sertifikasi halal tidak berhenti di dokumen pendaftaran. Perusahaan perlu menerapkan SJPH yang, menurut LPPOM, mencakup lima kriteria:

1.      Komitmen dan tanggung jawab: manajemen menetapkan kebijakan halal dan melatih karyawan.

2.      Bahan: semua bahan, termasuk bahan tambahan dan bahan penolong, memenuhi ketentuan halal, dan setiap perubahan bahan dilaporkan.

3.      Proses produk halal: jalur halal terpisah dari nonhalal, termasuk di fasilitas pihak ketiga.

4.      Produk: produk akhir memenuhi ketentuan halal.

5.      Pemantauan dan evaluasi: audit internal minimal sekali setahun dan pelaporan berkala ke BPJPH.

Bagi perusahaan dengan banyak SKU, kriteria kedua dan kelima paling terasa, karena setiap SKU baru atau pergantian pemasok menambah pekerjaan administrasi kalau sistemnya tidak tertata. Kalau sistemnya rapi, produk baru tinggal masuk ke alur yang sudah ada.

Apa Peran Jasa Sertifikasi Halal bagi Bisnis dengan Banyak SKU?

Perusahaan dengan sedikit SKU biasanya masih bisa menyiapkan semuanya secara internal. Begitu jumlah produk, bahan, pemasok, dan fasilitas bertambah, pendampingan dari pihak yang memahami prosesnya membantu memetakan dokumen dan data, sekaligus menemukan titik kritis lebih awal.

Pembagian peran dalam ekosistem halal di Indonesia juga perlu dipahami. BPJPH menyelenggarakan jaminan produk halal dan menerbitkan sertifikat. Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) memeriksa atau mengaudit produk, sedangkan penetapan kehalalan dilakukan melalui sidang fatwa sesuai mekanisme yang berlaku. LPH LPPOM menyediakan layanan pemeriksaan kehalalan produk dan uji laboratorium untuk memastikan status bahan.

Mau daftar sertifikasi halal? Cek kesiapan halal produk Anda di sini

Urutan Persiapan dan Pendaftaran Sertifikasi Halal BPJPH

Secara garis besar, perusahaan dengan banyak SKU bisa mengikuti urutan berikut:

1.      Petakan produk. Tentukan SKU yang akan diajukan.

2.      Petakan bahan. Catat seluruh bahan dan status dokumennya.

3.      Petakan pemasok. Kelompokkan berdasarkan kesiapan dokumen dan tingkat kepentingan bahannya.

4.      Tinjau proses dan fasilitas. Pastikan alur produksi tergambar jelas.

5.      Siapkan SJPH dan dokumen pendukung.

6.      Daftar melalui sistem BPJPH.

7.      Ikuti pemeriksaan oleh LPH sesuai ruang lingkup dan prosedurnya.

8.      Tunggu penetapan kehalalan dan penerbitan sertifikat.

Langkah 1 sampai 5 sepenuhnya ada di tangan perusahaan, dan biasanya di situlah sebagian besar waktu habis. Informasi resmi tentang pendaftaran tersedia di kanal BPJPH.

Banyak SKU Bukan Alasan Menunda Sertifikasi Halal

Makin banyak SKU, makin penting punya strategi, sebab menunggu sampai tenggat mepet, retailer menagih sertifikat, atau produk baru siap diluncurkan hanya membuat persiapan dikerjakan dalam kondisi terdesak, sering kali dengan dokumen bahan yang tercecer.

Anda tidak perlu menyelesaikan semuanya sekaligus. Mulai dari produk yang paling penting, lanjutkan ke bahan yang paling banyak dipakai, benahi pemasok yang paling kritis, lalu bangun sistem yang menjaga konsistensi halal untuk jangka panjang.

Siap Mengurus Sertifikasi Halal untuk Banyak SKU?

Anda tidak perlu menunggu semua data rapi untuk mulai berkonsultasi. Daftar SKU dan komposisi bahan, meski belum lengkap, sudah cukup untuk melihat bahan mana yang paling banyak dipakai dan pemasok mana yang paling berisiko. Dari situ, tim LPH LPPOM dapat membantu lewat layanan pemeriksaan kehalalan produk dan uji laboratorium bahan, sehingga produk prioritas Anda bisa diajukan lebih dulu tanpa menunggu ratusan SKU lain siap. Setiap minggu yang tertunda berarti satu minggu lebih sedikit untuk mengejar dokumen pemasok.

Informasi layanan dan pendaftaran: LPH LPPOM, pemeriksaan kehalalan produk.

KONSULTASIKAN PRIORITAS SKU ANDA SEKARANG

 

Referensi

•         Tak Hanya Makanan-Minuman, Ini Jenis Produk yang Wajib Bersertifikat Halal Mulai 18 Oktober 2026, BPJPH.

•         Raker dengan DPR, Kepala BPJPH Pastikan Implementasi Wajib Halal Oktober 2026 Sesuai Tahapan, BPJPH.

•         Artikel kriteria SJPH, LPPOM (halalmui.org).

Tags:

Prioritas Sertifikasi Halal
sertifikasi halal
SJPH
Supplier Bahan Baku Halal