Reputasi tidak lahir dalam semalam. Ia tumbuh dari konsistensi, kinerja, dan kepercayaan yang dibangun bersama para pemangku kepentingan. Bagi Muti Arintawati, dua penghargaan PRIWOLA 2026 menjadi momentum untuk terus merawat kepercayaan yang telah diberikan kepada LPPOM dalam mendukung sertifikasi halal BPJPH.
Direktur Utama LPPOM, Muti Arintawati, meraih dua penghargaan dalam PR INDONESIA Women Communication Leaders Awards (PRIWOLA) 2026, yakni Excellence Awards, Sub-kategori Excellence in Reputation Management serta Leadership Awards, Sub-kategori Outstanding Corporate Communication Leader. Penghargaan tersebut diberikan pada 10 September 2026 di Gedung Prof. Ir. Joetata Hadihardadja, Universitas Semarang, Jawa Tengah.
Founder & CEO PR INDONESIA, Asmono Wikan, mengatakan PRIWOLA merupakan bentuk apresiasi kepada pemimpin perempuan yang menunjukkan kontribusi, keteladanan, dan kepemimpinan melalui komunikasi strategis. “PRIWOLA 2026 kami hadirkan untuk mengapresiasi pemimpin perempuan yang mampu membangun reputasi, menginspirasi kepercayaan, serta menciptakan dampak nyata bagi organisasi maupun masyarakat,” ujar Asmono.
Mengusung tema “Lead with Impact, Inspire with Communications”, PRIWOLA 2026 menjadi ruang untuk mengapresiasi perempuan yang tidak hanya memiliki kapasitas kepemimpinan, tetapi juga mampu menghadirkan perubahan positif melalui komunikasi yang bermakna.
“Proses penilaian dilakukan secara komprehensif melalui submission entry dan presentasi di hadapan Dewan Juri, dengan seluruh proses penilaian dan pertimbangan dilakukan secara mendalam,” jelas Asmono.
Bagi Muti, penghargaan tersebut tentu menjadi sebuah kebahagiaan. Namun, di baliknya terdapat tanggung jawab yang lebih besar untuk terus menjaga reputasi dan kepercayaan yang telah dibangun LPPOM selama ini.
“Penghargaan ini tentu menjadi kebahagiaan, tetapi bagi saya lebih penting untuk melihatnya sebagai pengingat bahwa reputasi harus terus dirawat. Apa yang dicapai hari ini tidak terlepas dari kerja keras seluruh insan LPPOM dan kepercayaan yang diberikan oleh para pemangku kepentingan,” ujar Muti.
Sebagai lembaga yang memiliki pengalaman panjang dalam pemeriksaan halal, LPPOM memahami bahwa kepercayaan publik tidak dapat dibangun hanya melalui komunikasi. Reputasi berangkat dari apa yang benar-benar dikerjakan organisasi mulai dari kompetensi, independensi, integritas, kualitas layanan sertifikasi halal BPJPH, hingga kemampuan untuk terus berinovasi dan beradaptasi dengan perkembangan ekosistem halal.
Lebih dari 37 tahun LPPOM menjalankan proses pemeriksaan dan sertifikasi halal menjadi perjalanan panjang dalam membangun kepercayaan. Selama itu pula, LPPOM terus menjaga tanggung jawab dan konsistensi dalam memastikan proses pemeriksaan halal dilakukan secara profesional. Kepercayaan yang tumbuh selama lebih dari tiga dekade tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun kepercayaan publik hingga hari ini.
“Bagi kami, perjalanan lebih dari 37 tahun ini adalah perjalanan memberikan dan menjaga kepercayaan. Kepercayaan dibangun melalui proses dan konsistensi dalam menjalankan tanggung jawab. Karena itu, ketika berbicara tentang reputasi dan branding, yang kami jaga bukan hanya bagaimana LPPOM dipersepsikan, tetapi bagaimana kepercayaan yang telah dibangun dapat terus dipertahankan,” ujar Muti.
Komunikasi dan branding kemudian menjadi jembatan untuk menyampaikan nilai dan kontribusi tersebut kepada publik. Bukan sekadar membangun citra, tetapi memastikan setiap pesan memiliki dasar pada kinerja dan kontribusi nyata. Hal ini diwujudkan melalui berbagai program edukasi dan kolaborasi, seperti Gen Halal Championship 2026 yang melibatkan 4.525 peserta dan Festival Syawal yang menjangkau lebih dari 10.000 peserta edukasi serta memfasilitasi lebih dari 1.500 UMK dalam sertifikasi halal.
Bagi LPPOM, setiap program merupakan bagian dari upaya merawat hubungan dengan publik. Sebab, kepercayaan tidak hanya dibangun dari apa yang dikatakan, tetapi juga dari apa yang dilakukan dan dirasakan masyarakat.
“Ketika kita berbicara mengenai reputasi, pada akhirnya kita berbicara tentang pengalaman orang terhadap organisasi. Karena itu, kami ingin komunikasi LPPOM tidak hanya memberi informasi, tetapi juga memberikan pemahaman, membuka akses, dan menghadirkan manfaat,” kata Muti.
Membangun reputasi juga berarti menyiapkan organisasi menghadapi isu dan krisis. Bagi Muti, crisis handling tidak dimulai saat masalah muncul, tetapi dibangun melalui kredibilitas, hubungan dengan pemangku kepentingan, serta komunikasi yang konsisten dan bertanggung jawab.
“Crisis handling pada dasarnya juga tentang trust. Kepercayaan menjadi modal untuk menghadapi situasi sulit, tetapi harus terus dijaga melalui tindakan dan komunikasi yang konsisten,” tutur Muti.
Hal inilah yang membuat pekerjaan membangun reputasi tidak pernah benar-benar selesai. Perubahan regulasi, perkembangan teknologi, dinamika industri, serta ekspektasi publik yang semakin tinggi menuntut LPPOM untuk terus belajar dan beradaptasi. Branding pun tidak berhenti pada bagaimana organisasi ingin dikenal, tetapi bagaimana organisasi terus membuktikan nilai yang ingin dipercayainya.
Dua penghargaan PRIWOLA 2026 pada akhirnya menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Bukan sebagai garis akhir, melainkan sebagai pengingat bahwa setiap pengakuan selalu membawa tanggung jawab untuk melakukan yang lebih baik. (YN)