BRIN mengunjungi LPPOM untuk memperkuat kolaborasi riset dan pengembangan teknologi pengujian halal. Kolaborasi ini mencakup pengembangan Digital PCR untuk deteksi porcine, kecerdasan buatan (AI), hingga pengujian kosmetik wudhu-friendly guna mendorong inovasi dan memperkuat ekosistem halal nasional.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengunjungi LPPOM pada 8 Oktober 2026 di Global Halal Centre, Bogor, Jawa Barat, untuk menjajaki penguatan kolaborasi riset dan pengembangan teknologi pengujian halal. Pertemuan yang melibatkan peneliti, perguruan tinggi, dan praktisi laboratorium ini membahas berbagai inovasi, mulai dari pengembangan Digital PCR untuk deteksi DNA porcine hingga pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dalam identifikasi material hewani.
Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat riset halal Indonesia melalui pertukaran pengetahuan dan pemetaan peluang penelitian bersama. Sinergi lintas lembaga diharapkan dapat menghasilkan metode pengujian yang lebih akurat, efisien, dan adaptif terhadap perkembangan kebutuhan industri.
Dalam pertemuan tersebut, LPPOM memperkenalkan perkembangan laboratoriumnya yang tengah bertransformasi menuju entitas bisnis baru, PT Global Hitrust Corp, dengan merek Hitrust Verify. Transformasi ini memperluas cakupan layanan laboratorium halal, tidak hanya untuk pengujian halal, tetapi juga aspek mutu dan keamanan produk (thayyib).
“Transformasi ini memperluas cakupan layanan laboratorium, tidak hanya untuk pengujian halal, tetapi juga aspek mutu dan keamanan produk (thayyib). Kami menyadari bahwa kebutuhan berkaitan dengan thayyib kian meningkat,” ujar Heriyani, General Manager Laboratorium LPPOM MUI.
Kembangkan Teknologi Pengujian Halal Berbasis Sains
Salah satu agenda utama pertemuan BRIN dan LPPOM adalah mengidentifikasi peluang kolaborasi riset untuk mengembangkan teknologi pengujian halal. Sejumlah topik yang dibahas meliputi pencarian global marker peptida porcine pada gelatin, identifikasi bulu dan kulit hewan berbasis AI, pengembangan instrumen analisis aroma dan alkohol, rapid test multispesies, hingga media mikrobiologi siap pakai yang tersertifikasi halal.
Pada bidang analisis sensori, keterbatasan panelis menjadi salah satu tantangan dalam pengujian karakteristik aroma, termasuk pada sampel minuman yang berkaitan dengan alkohol. Untuk menjawab tantangan tersebut, teknologi Electronic Nose (E-Nose) dan GC-Olfactometry dinilai berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut.
Peneliti BRIN Gunungkidul, Anjar Windarsih, M.Pharm.Sci., Ph.D., menyampaikan bahwa pihaknya memiliki fasilitas GC-MS Olfactometry yang masih dapat dieksplorasi untuk berbagai kebutuhan penelitian. LPPOM pun membuka peluang diskusi untuk menjajaki pengembangan metode tersebut melalui kolaborasi riset.
Pembahasan juga mencakup pengembangan Digital PCR untuk deteksi porcine, terutama pada sampel dengan matriks kompleks seperti gelatin. Keberadaan inhibitor dalam sampel dapat mengganggu proses amplifikasi DNA sehingga diperlukan metode pengujian yang sesuai.
“Pada matriks sulit, Digital PCR unggul karena teknologi partitioning yang meniadakan efek inhibisi,” jelas Willery Yeo, Molecular R&D Senior Specialist Laboratorium LPPOM MUI.
Pengembangan teknologi ini berpotensi meningkatkan kemampuan analisis pada sampel yang menantang. Melalui kolaborasi dengan BRIN, riset tersebut diharapkan mendukung pengembangan metode deteksi porcine yang sesuai dengan kebutuhan pengujian halal berbasis sains.
Peluang kolaborasi lainnya mencakup pengujian halal berbasis AI, khususnya untuk identifikasi bulu dan kulit hewan. LPPOM bersama BRIN di bidang teknologi informasi tengah mengembangkan konsep kamera pintar berbasis AI yang dapat dipasang pada mikroskop analog standar. Sistem ini diharapkan mampu mengenali pola kutikula rambut secara otomatis untuk membantu membedakan sumber hewan.
Selain itu, kedua pihak membahas potensi riset kosmetik wudhu-friendly melalui pengujian water permeability atau permeabilitas air. Pengembangan metode ini membuka peluang kerja sama dengan BRIN dan perguruan tinggi, terutama untuk penelitian yang membutuhkan dukungan instrumen seperti Scanning Electron Microscopy (SEM).
Kolaborasi BRIN dan LPPOM Perkuat Ekosistem Halal Nasional
Penguatan riset halal Indonesia juga mendapat perhatian dari Binsar Agung Hartanto Sitompul, Deputy Director of Halal Industry Infrastructure KNEKS. Ia menekankan pentingnya kerja sama lintas lembaga untuk memperkuat penelitian dari hulu, termasuk mendorong kemandirian bahan baku farmasi nasional.
“Menjelang implementasi mandatori sertifikasi halal untuk farmasi dan kosmetik pada 18 Oktober, lebih dari 90% bahan baku farmasi kita masih impor. Kajian dan riset substitusi bahan baku obat halal di hulu sangat krusial agar kemandirian farmasi nasional tercapai,” ujar Binsar.
Ia juga mendorong pengembangan rapid test untuk mendeteksi unsur nonhalal di titik perbatasan, seperti pelabuhan dan bandara. Teknologi tersebut berpotensi mendukung pengawasan produk impor sebelum beredar lebih luas di pasar domestik.
Berbagai topik yang dibahas menunjukkan bahwa pengembangan teknologi pengujian halal membutuhkan sinergi antara lembaga riset, laboratorium, perguruan tinggi, dan pelaku industri. Kolaborasi ini membuka peluang pemanfaatan fasilitas penelitian, pengembangan metode baru, serta pertukaran keahlian untuk menjawab tantangan pengujian yang terus berkembang.
Melalui kunjungan BRIN ke LPPOM, penjajakan kerja sama diharapkan berlanjut menjadi inovasi konkret yang memperkuat kapasitas laboratorium halal dan teknologi pengujian di Indonesia. Sinergi ini menjadi langkah strategis untuk mengembangkan riset halal Indonesia yang berbasis sains, mendorong inovasi pengujian halal, dan mendukung daya saing ekosistem halal nasional. (Ghinal / Ed.YN)