Audit halal tak lagi cukup hanya dengan memeriksa dokumen. Di tengah rantai pasok global, bahan yang semakin kompleks, dan proses produksi yang terus berkembang, sistem audit halal dituntut semakin adaptif dan berbasis bukti. Lantas, apa saja yang membuat audit halal perlu berevolusi?
Perkembangan industri halal dan rantai pasok global membuat audit halal perlu terus berkembang. Proses audit kini dituntut mampu memberikan jaminan yang kredibel melalui verifikasi berbasis bukti, kompetensi auditor, pendekatan berbasis risiko, serta dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Hal tersebut dibahas dalam sesi “Developing Halal Audit and Inspection” pada The 5th Summit of Halal 20 (H20), 19 September 2026, di Grand Ballroom Trans Hotel Jakarta, Trans Studio Mall Cibubur, Depok, Jawa Barat. Sesi ini menghadirkan Raafqi Ranasasminta, M.Biomed, VP Corporate Secretary LPPOM, dan Fairuz Luthfiyah Azzahrini, Halal Product Specialist, KSO Sucofindo–Surveyor Indonesia (KSO SCISI).
Raafqi menekankan bahwa kompleksitas industri membuat audit halal perlu bergeser dari sekadar pemeriksaan dokumen menuju sistem yang mampu memberikan halal assurance secara kredibel.
“Seiring semakin kompleksnya industri, audit halal perlu berevolusi dari sekadar pemeriksaan dokumen menjadi proses yang memberikan jaminan secara kredibel.”
Lantas, apa yang mendorong perubahan tersebut? Berikut lima tantangan utamanya.
1. Rantai Pasok Semakin Global
Bahan baku dan pemasok kini dapat berasal dari berbagai negara, membuat rantai pasok halal semakin panjang dan kompleks. Perbedaan negara asal, sistem produksi, pemasok, hingga distribusi membutuhkan proses verifikasi yang mampu memastikan informasi dan bukti terkait bahan dapat ditelusuri. Karena itu, kerja sama internasional dan konsistensi pendekatan audit menjadi semakin penting.
2. Bahan Semakin Kompleks
Perkembangan teknologi pangan, farmasi, kosmetik, dan industri lainnya menghasilkan bahan dengan proses produksi yang semakin beragam. Enzim, gelatin, hasil fermentasi, processing aids, hingga bahan berteknologi tinggi dapat memiliki rantai produksi panjang. Auditor perlu memahami karakteristik bahan, proses pembuatannya, serta titik kritis kehalalan untuk memastikan proses verifikasi berjalan secara tepat.
3. Proses Manufaktur Makin Kompleks
Risiko halal juga dapat muncul dalam proses produksi. Penggunaan shared facilities, beberapa lini produksi, serta potensi kontaminasi silang membutuhkan perhatian dalam audit dan inspeksi halal. Auditor perlu memahami alur bahan sejak penerimaan, penyimpanan, pengolahan, hingga menjadi produk akhir agar penerapan sistem jaminan halal dapat dinilai secara menyeluruh.
4. Proses Bisnis Terus Berubah
Perubahan pemasok, formulasi, proses produksi, maupun fasilitas merupakan bagian dari dinamika bisnis. Perubahan tersebut dapat memengaruhi aspek kehalalan. Karena itu, sertifikasi halal perlu didukung sistem pengawasan dan evaluasi yang mampu merespons perubahan, bukan hanya menilai kondisi perusahaan pada satu titik waktu.
5. Kebutuhan Bukti Ilmiah Semakin Besar
Tidak semua risiko kehalalan dapat diverifikasi melalui dokumen. Dalam kondisi tertentu, diperlukan bukti ilmiah melalui pengujian laboratorium, analisis, maupun teknologi. Hal ini menuntut peningkatan kompetensi auditor serta kolaborasi antara lembaga sertifikasi, laboratorium, industri, dan pihak terkait.
Membangun Audit Halal yang Lebih Kredibel
Lima tantangan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan audit halal bukan sekadar perubahan prosedur. Audit halal berbasis risiko, pemanfaatan teknologi, serta peningkatan kompetensi auditor dan inspector menjadi bagian penting untuk membangun sistem jaminan halal yang semakin kredibel.
Auditor perlu memahami standar dan regulasi halal sekaligus perkembangan teknologi, karakteristik bahan, proses manufaktur, dan dinamika rantai pasok. Dengan pendekatan berbasis risiko, perhatian dapat diarahkan pada titik-titik yang memiliki potensi risiko halal lebih tinggi.
Penguatan tersebut juga membutuhkan kolaborasi lintas negara. Bagi Indonesia, peningkatan kualitas dan kredibilitas audit halal penting untuk memperkuat posisi industri halal di pasar global.
Semangat ini sejalan dengan The 5th Summit of Halal 20 (H20), yang mempertemukan otoritas halal, regulator, dan pemimpin industri dari berbagai negara untuk membangun ekosistem halal global yang lebih terintegrasi. H20 mendorong mutual recognition agreement antarlembaga sertifikasi halal, penguatan tata kelola halal global, pemberdayaan UMKM, serta kolaborasi melalui business matching, riset, dan kemitraan internasional.
Pada akhirnya, evolusi audit halal diperlukan agar sistem jaminan halal mampu mengikuti kompleksitas industri. Audit tidak lagi sekadar memastikan kepatuhan, tetapi juga menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan terhadap produk halal, memperkuat integritas rantai pasok, dan mendukung ekosistem halal global yang kredibel. (YN)