Ramadhan memang telah berlalu, tetapi semangatnya tak seharusnya ikut pergi. Apakah Ramadhan hanya ritual tahunan, atau justru titik balik menuju hidup yang lebih bersih, lebih ikhlas, dan lebih profesional? Sebab sesungguhnya, cahaya Ramadhan layak menyala sepanjang tahun.
Ramadhan telah berlalu, namun semangatnya seharusnya tidak berlalu. Dalam sebuah sesi kajian penuh hikmah, Ustadz Samsul Basri seorang ulama dengan jabatan strategis di bidang dakwah dan pendidikan Islam mengajak kita merenungi makna terdalam dari Ramadhan: bahwa Ramadhan bukan sekadar bulan ritual, melainkan titik tolak menuju gaya hidup takwa yang berkelanjutan.
“Kalau bisa, Ramadhan itu sepanjang masa,” ungkap beliau. “… Bukan karena kita ingin berpuasa setiap hari, melainkan karena Ramadhan adalah pelatihan intensif dalam menjalani kehidupan dengan penuh ketakwaan.”, sambungnya.
Melalui tadabbur QS. Adz-Dzariyat ayat 15–19, Ustadz Samsul menguraikan empat pelajaran penting yang seharusnya menjadi kompas bagi setiap Muslim, yaitu jaminan sukses bagi orang bertakwa, gaya hidup takwa, evaluasi Ramadhan dalam pembentukan karakter takwa, dan bagaimana menjaga semangat Ramadhan di bulan-bulan berikutnya.
1. Jaminan Sukses Dunia dan Akhirat bagi Orang Bertakwa
Surga bukan sekadar impian, tetapi juga janji pasti bagi orang bertakwa. “Orang bertakwa dijamin bukan hanya masuk surga, tapi juga dijamin tidak akan tersentuh oleh api neraka,” tegas Ustadz Samsul.
Beliau mengutip QS. Maryam ayat 71–72 dan QS. Ali Imran ayat 185 untuk memperkuat pernyataannya: kesuksesan sejati bagi umat muslim adalah selamat dari neraka dan masuk ke dalam surga. Namun ternyata, keberuntungan ini tidak hanya akan diperoleh di akhirat. QS. At-Thalaq ayat 2–4 menyebutkan bahwa orang bertakwa akan Allah beri jalan keluar dari segala persoalan, rezeki yang tak disangka-sangka, serta kemudahan dalam setiap urusan.
Orang bertakwa adalah pribadi yang tak akan dihantui oleh rasa takut dan kesedihan yang berlarut-larut. Mereka hidup dalam optimisme, yakin bahwa bersama kesulitan ada kemudahan. Itulah kebahagiaan sejati di dunia ini.
2. Gaya Hidup Takwa: Inspirasi dari Al-Qur’an
Selanjutnya Ustadz Samsul menjelaskan bahwa QS. Az-Zariyat ayat 16–19 memberi gambaran langsung tentang gaya hidup orang bertakwa:
- Mereka adalah muhsinin, pelaku kebaikan dengan kualitas terbaik.
- Mereka mengurangi waktu tidur malam untuk beribadah.
- Mereka beristighfar di waktu sahur.
- Mereka menyisihkan harta untuk kaum dhuafa, baik yang meminta maupun yang tidak meminta.
“Ibarat orang yang ingin menjadi atlet profesional, maka ia akan meniru gaya hidup idolanya. Begitu juga dengan kita. Kalau mau sukses seperti ahli takwa, ya tirulah keseharian mereka,” ujarnya penuh semangat.
Berbuat Ihsan berbuat baik dengan kualitas tertinggi menjadi landasan gaya hidup takwa. Ihsanlah kepada Allah, kepada sesama manusia, dan kepada alam. “Kalau kamu menolong, tolonglah dengan tuntas. Kalau kamu menyembelih hewan, tajamkanlah pisaumu. Kalau kamu bersih-bersih, bersihkan sampai ke kamar mandi dan ruang rapat,” tambah beliau.
3. Ramadhan sebagai Pembentuk Karakter Takwa
Menurut Ustadz Samsul, Ramadhan bukanlah akhir, melainkan sebuah awal. “Kalau gaya hidup takwa yang disebut di QS. Az-Zariyat itu kita perhatikan, semuanya dilatih saat Ramadhan,” ujar Ustadz Samsul.
Berbuat ihsan kepada Allah dilatih lewat ibadah puasa. Mengurangi tidur malam dilatih melalui Tarawih dan Qiyamul Lail. Beristighfar di waktu sahur dibiasakan melalui kebiasaan sahur. Serta sedekah menjadi hal yang sangat ditekankan selama Ramadhan.
Artinya, Ramadhan adalah training center untuk membuat kita menjadi pribadi yang bertakwa. Maka pertanyaannya bukanlah, “Apa kabar Ramadhan-mu?” tetapi “Apakah Ramadhan telah mengubahmu?”
4. Menjaga Semangat Ramadhan di 11 Bulan Lainnya
Semangat Ramadhan harus dijaga agar tidak hilang saat Syawal datang. Menurut Ustadz Samsul, caranya adalah dengan memahami hakikat takwa serta mengimplementasikannya di dalam kehidupan sehari-hari.
Hakikat takwa sendiri terdiri dari empat elemen:
- Al-khawf minal Jalil – Takut kepada Allah Yang Mahatinggi.
- Al-amalu bit Tanzil – Beramal berdasarkan wahyu (Al-Qur’an dan Sunnah).
- Ar-ridha bil qalil – Ridha dengan pemberian Allah, meskipun sedikit.
- Al-isti’dad li yaumir rahil – Selalu mempersiapkan bekal untuk akhirat.
Sehingga dari sini dapat muncul indikator dan kiat untuk menjaga semangat takwa, antara lain:
Jika ingin menundukkan syahwat, maka perbanyaklah salat dan puasa sunnah.
Jika ingin menambah rasa takut kepada Allah, maka dekatilah ilmu.
Jika ingin menjadi dermawan, maka biasakanlah bersedekah meski hanya dengan Rp 1.000,00 per hari.
Jika ingin menjadi profesional, maka bekerjalah dengan niat ibadah, sebagaimana perintah Rasulullah: “Sesungguhnya Allah mencintai apabila seseorang melakukan pekerjaan, maka ia melakukannya dengan profesional”. Di samping itu pula terdapat riwayat hadist berikut “Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah masa kehancurannya” yang intinya menjelaskan bahwa kita harus kompeten/profesional dalam mengerjakan pekerjaan yang kita lakukan.
Jadikan Ramadhan sebagai Titik Balik
Saat menutup kajiannya, Ustadz Samsul mengingatkan bahwa “Jika kita ingin mendapatkan pengabulan dari Allah atas doa sapu jagad ‘Rabbana ‘atina fid-dunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina ‘adzabannaar’ maka layakkanlah diri kita dengan menjadi hamba yang bertakwa.”
Ramadhan adalah bulan transformasi. Tapi apakah transformasi itu akan bertahan? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing.
Apakah kita benar-benar mengambil pelajaran, atau hanya mengisi kekosongan dengan rutinitas? Apakah kita hanya rindu suasana Ramadhan, atau juga ingin membawa cahayanya sepanjang tahun?
Karena pada akhirnya, Ramadhan bukan hanya soal ibadah. Ia adalah latihan, untuk menjadikan kita pribadi yang lebih baik tak hanya sebulan, tapi sepanjang usia. (DIL)
*Sumber : Jurnal Halal 173 https://halalmui.org/jurnal-halal/173/