Pilih Madu Murni, Bantu Jalani Puasa Ramadhan

2020-04-30 10:38:12

Ramadhan menjadi bulan yang paling dinantikan seluruh umat Muslim di dunia. Ada banyak ibadah dan kegiatan yang dijalani saat bulan tersebut. Mulai dari berpuasa, shalat tarawih, hingga agenda sosial lainnya. Karena itu, umat muslim perlu mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya.

 

Selain perbaikan kualitas ibadah, kesiapan jasmani ternyata juga menjadi hal penting yang harus diperhatikan. Tubuh yang sehat dan bugar akan melancarkan umat muslim dalam menjalani ibadah puasa. Ada banyak cara untuk menjaga kesehatan tubuh saat berpuasa. Salah satunya dengan mengonsumsi madu murni saat sahur dan berbuka puasa.

 

Selama berpuasa, umat muslim disarankan untuk mengonsumsi madu sebanyak satu sampai dua sendok makan. Hal ini dapat memberikan manfaat bagi tubuh, terutama saat berpuasa. Dilansir dari doktersehat.com, tercatat ada lima manfaat utama madu, yaitu: pengganti alami pemanis makanan atau minuman, pemberi tambahan energi secara instan, melindungi kerongkongan dan lambung, meningkatkan daya tahan, serta menurunkan kadar trigliserida.

 

Pada dasarnya, madu murni termasuk dalam daftar “Bahan Tidak Kritis”. Hal ini disebutkan dalam Surat Keputusan LPPOM MUI nomor SK15/DIR/LPPOM MUI/XI/19. Artinya, madu sudah dikatakan aman dan halal dikonsumsi, tanpa harus melalui serangkaian proses sertifikasi halal.

 

Namun, lain ceritanya jika madu sudah dicampurkan dengan bahan lain seperti misalnya perisa tertentu. Produk madu berperisa (umumnya perisa buah) dapat ditemui dengan mudah di pasaran dan jenis madu seperti ini bisa jadi mengandung titik kritis dari segi kehalalan.

 

Menurut Dr. Nancy Dewi Yuliana, dosen Ilmu Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor sekaligus auditor halal LPPOM MUI, ada dua jenis perisa, yakni perisa alami dan artifisial. Perisa buah alami umumnya berasal dari bahan nabati, seperti kulit jeruk atau orange's peel. Pengolahan dilakukan secara fisik, misalnya melalui pengepresan tanpa penambahan bahan lain. Melihat dari bahan dan prosesnya, maka bisa dikatakan perisa alami yang diolah seperti ini termasuk bahan tidak kritis.

 

“Sedangkan perisa sintetik lebih kompleks dan dari segi kehalalan pun bisa termasuk kategori bahan kritis. Meski dari nama tampaknya aman, karena flavour buah, namun terkadang ditemui juga bahan penyusun flavour buah sintetik yang merupakan turunan lemak,” jelas Nancy.

 

Turunan lemak inilah yang harus ditelusuri asalnya. Apabila lemak berasal dari hewan haram, seperti babi, maka sudah dapat dipastikan haram. Namun, apabila lemak berasal dari hewan halal, maka harus dipastikan cara penyembelihan sesuai dengan syariah Islam.

 

Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah madu oplosan atau palsu. Tak dapat dimungkiri, saat ini banyak penjual nakal di pasaran. Hal ini memaksa kita untuk lebih berhati-hati dengan produk-produk tiruan. Boleh jadi, bukan sehat yang didapat, justru malah menderita sakit berkepanjangan.

 

Dilansir dari beberapa berita online, bahan madu oplosan ternyata sangat berbahaya untuk dikonsumsi. Beberapa bahan yang mungkin digunakan diantaranya tawas, gula, tepung, hingga alkohol. Untuk tawas dan alkohol, sebagian besar masyarakat sudah paham benar buruknya dua bahan ini bagi kesehatan.

 

Sementara untuk titik kritis gula pasir, Nancy memaparkan, ada pada kemungkinan penggunaan arang aktif di tahap pemucatan (bleaching). Arang aktif bisa dibuat dari kayu, tempurung kelapa, serbuk gergaji, tulang hewan, dan sebagainya.

 

“Saya sudah mengonfirmasi dari suatu perusahaan arang aktif di Eropa bahwa memang ada arang aktif yang terbuat dari tulang. Meski, penggunaanya lebih banyak digunakan pada tahap dekolorisasi untuk produk-produk pharmaceuticals,” katanya.

 

Ada banyak cara untuk menguji keaslian madu. Salah satu yang sederhana, cobalah memasukkan madu ke dalam lemari pendingin. Madu asli tidak akan membeku, sedangkan madu oplosan akan membeku. Cara mudah lainnya, teteskan madu ke dalam air. Madu asli tidak akan larut, tetesannya akan jatuh ke dasar gelas. Sementara itu, madu oplosan akan larut dalam air.

 

“Membedakan madu asli dan oplosan juga bisa dilakukan dengan menggunakan teknik-teknik analisis yang lebih canggih. Misalnya menggunakan kromatografi kinerja tinggi (HPLC), mass spectrometry (MS), atau nuclear magnetic resonance (NMR). Teknik-teknik tersebut didasarkan pada fakta bahwa jenis gula atau sakarida penyusun madu murni yang sudah pasti berbeda dengan madu oplosan,” ujar Nancy.

 

Oleh karena itu, penting bagi konsumen untuk mengecek terlebih dahulu suatu produk sebelum mengonsumsinya. Langkah yang paling aman adalah dengan mengecek label halal MUI pada kemasan produk. Dengan adanya label halal MUI, maka dapat dipastikan produk tersebut halal dan thayyib. Sehingga aman dikonsumsi dan baik bagi kesehatan. (YN)

 

Artikel Terbaru Lainnya

INDEX ARTIKEL

Link LPPOM MUI

Jakarta Sekretariat LPPOM MUI

Bogor Global Halal Centre

-->